kampung down syndrome ponorogo

Kampung Down Syndrome di Ponorogo, Antara Mitos dan Kemiskinan “Abadi”

Prihatin, Satu Desa 5,7 Persen Down Syndrome

Di Indonesia, mungkin hanya di Kabupaten Ponorogo yang desa-desanya dihuni banyak warga down syndrome (keterbelakangan mental). Jumlahnya ratusan orang. Benarkah hanya karena mereka miskin?Setidaknya terdapat tiga kawasan perkampungan di Kabupaten Ponorogo, Jatim, yang banyak dihuni down syndrome. Seluruhnya berada di lereng pegunungan yang mengepung kabupaten pimpinan H Amin dan Yuni Widyaningsih itu.

Berdasar hasil penelusuran Jawa Pos, total warga yang menderita down syndrome di tiga kawasan tersebut mencapai 445 orang. Jika dirinci lebih detail, yang paling banyak terdapat di Desa Sidoharjo, Kecamatan Jambon (323 orang). Selanjutnya, di Desa Karangpatihan, Kecamatan Balong, terdapat 69 orang dan di Desa Pandak, Kecamatan Balong, terdapat 53 orang (selengkapnya baca grafis di halaman 3).

Di antara tiga wilayah itu, Desa Sidoharjo memang tercatat paling banyak memiliki warga yang tumbuh tidak normal. Jumlahnya mencapai 323 orang di antara 5.690 jiwa penduduk di desa itu (sekitar 5,7 persen).

Daerah yang memiliki banyak warga down syndrome bisa dikatakan satu tipikal. Yakni, sama-sama berada di lereng gunung, tanah berkapur yang sulit ditanami, terpencil, akses transportasi sulit, tiwul (makanan olahan dari singkong) sebagai menu makan utama, miskin, hingga berpendidikan rendah. Pekerjaan mayoritas warganya juga sama: buruh tani.

Lantaran berada di lereng pegunungan, mengaksesnya pun tidak mudah. Setidaknya, dibutuhkan minimal satu hingga dua jam perjalanan dari pusat Kota Ponorogo dengan menggunakan kendaraan roda empat. Tiga wilayah tersebut juga memiliki ciri khas lain, yakni hanya memiliki satu akses jalan masuk, lantaran sisi-sisi jalannya tertutup oleh perbukitan dan hutan.

Dukuh Sidowayah di Desa Sidoharjo misalnya. Daerah tersebut cukup sulit diakses oleh pendatang. Hanya ada satu jalan utama setelah melewati sawah-sawah dan hutan. Jalan menyempit saat memasuki desa tersebut. Umumnya, jalanan terbagi tiga tipe. Aspal, makadam, serta tanah dengan berbagai tanjakan dan turunan khas daerah pegunungan.

Untuk yang baru pertama ke sana, tidak berlebihan jika menyamakan akses masuk ke Sidowayah mirip dengan film-film horor Indonesia. Sepi, banyak pohon menjulang tinggi, penerangan rumah minim, terutama jika malam, dan jalan sempit dengan berbagai belokan yang membingungkan. Jika dibandingkan dengan akses menuju Kecamatan Balong, Sidowayah bisa dikatakan paling berat.

Desa Pandak juga demikian. Jalan sempit sudah terasa saat memasuki akses menuju Pandak. Kiri kanan berupa hamparan sawah dan hutan. Di situ, jalan lebih parah karena mayoritas berupa makadam. Tidak hanya itu, jalan hanya mampu ditaklukkan oleh roda dua. Namun, semua kendaraan dipastikan lumpuh saat hujan turun karena akses jalan menuju perbukitan masih berupa tanah liat.

Saking banyaknya warga yang mengalami keterbelakangan mental, warga tidak lagi mempermasalahkan mereka. ”Mereka bukan masalah bagi kami,” ujar Kades Sidoharjo Parnu.

kampung Down Syndrome Ponorogo
Warga yang menghuni kampung Down Syndrome Ponorogo. (Dita Putri/Jawa Pos)

Pola interaksi yang terjadi juga tidak jauh berbeda dengan kehidupan manusia normal. Penderita keterbelakangan mental yang bisa bekerja diarahkan untuk membantu orang tua. Mereka yang tidak bisa diajari apa pun dibiarkan begitu saja berkeliaran di perkampungan. Karena tidak ada satu pun yang bertipe menyerang, warga tidak pernah merasa terganggu.

Sisi perekonomian jelas tidak bisa dibanggakan. Sebagai buruh tani, bisa jadi penghasilan mereka Rp 100 ribu-Rp 300 ribu per bulan. Dengan rendahnya penghasilan ditambah lagi keluarga yang rata-rata mempunyai anak lebih dari dua, ujung-ujungnya warga tidak bisa mengonsumsi makanan bergizi secara rutin.

Ironi memang. Menurut keterangan tiga Kades yang wilayahnya banyak dihuni warga down syndrome (Sidoharjo, Karangpatihan, dan Pandak), warganya hanya bisa menikmati nasi saat pembagian beras untuk keluarga miskin (raskin). Beras jatah pemerintah itu hanya bisa dikonsumsi beberapa hari. Setelah itu, kembali lagi mereka mengonsumsi tiwul. ”Biasanya tanpa lauk. Tiwul itu saja makanannya,” ucap Kades Pandak Yaimun.

Seperti yang terjadi di rumah Janem, 70. Saat Jawa Pos ke rumahnya, dia sedang menjemur singkong di halaman. Di dalam rumah, Bandi, 43, dan Jemari, 40, sedang memegang tempe berisi tiwul. Tidak ada lauk di tumpukan tiwul itu. Di dalam rumah itu juga tidak terdapat banyak perabot. Hanya dipan tanpa kasur yang digunakan untuk duduk oleh dua anaknya yang sama-sama down syndrome itu.

Nah, tiwul yang mengandung gaitan dan cooksey sebagai zat goitrogenik itulah yang ditengarai menjadi pemicu munculnya kasus down syndrome. Zat yang terkandung di dalam singkong bisa merusak metabolisme yodium. Akibatnya, warga kawasan itu menderita gangguan akibat kekurangan yodium (GAKY).

Kisah lainnya datang dari Desa Karangpatihan. Keluarga yang anggota keluarganya banyak mengidap down syndrome adalah Giyem. Sayang, saat Jawa Pos berkunjung ke rumah Giyem, dia tidak berada di tempat. Giyem adalah anak kelima di antara 9 bersaudara. Kondisi dia normal. Tetapi, empat adiknya mengalami down syndrome. Mereka adalah Painten, 42, Boinem, 40, Danem, 38, dan Dayat, 35. Semua tinggal serumah dengan Giyem.

Si bungsu Dayat tergolong down syndrome ringan. Sebab, dia masih bisa diajak berbicara dan mau bekerja. Selama ini dia bersama Giyem yang normal menjadi tulang punggung keluarga. Sedangkan tiga kakaknya yang saat itu duduk di depan rumah hanya bertugas membersihkan rumah. ”Biasanya saya mencari batu dan mengurus kambing,” ucap Dayat, lantas terkekeh sendiri.

Apa yang membuat kampung-kampung itu banyak dihuni warga down syndrome? Kadinkes Ponorogo Andy Nurdiana Diah menyebut dampak GAKY tidak hanya pada pembesaran kelenjar gondok. Yang lebih penting adalah terhambatnya perkembangan tingkat kecerdasan otak pada janin dan anak. Kerusakan saraf otak bisa mengakibatkan rendahnya nilai IQ (intelligent guotient) penderita GAKY. ”Itulah yang sebenarnya terjadi di sini. Jadi, bukan disebabkan perkawinan sedarah, meski itu bisa saja terjadi,” jelasnya.

Ada versi lain terkait asal muasal kampung down syndrome itu. Ada satu cerita yang disepakati warga Karangpatihan dan Pandak. Yakni, bermula pada 1963 hingga 1967. Konon, saat itu dua desa tersebut terserang hama tikus yang menyerang selama empat tahun.

Kades Karangpatihan Daud Cahyono yang saat bencana terjadi masih balita ingat betul bagaimana susahnya warga. Seluruh hasil bumi menjadi rusak dan warga gagal panen. Lokasi desa yang terpencil dan minimnya akses membuat warga tidak memiliki banyak pilihan makanan. ”Padahal, saat itu banyak ibu hamil,” kenangnya.

Lahir dari ibu yang kekurangan gizi membuat bayi-bayi Karangpatihan menjadi tumbuh tidak normal. Jumlahnya semakin banyak karena hama tersebut menyerang selama empat tahun. Warga semakin menderita karena tanah di kawasan tersebut bersifat tadah hujan. Tidak bisa setiap saat ditanami padi. ”Biasanya, setahun hanya sekali tanam,” terangnya.

Versi lainnya, kali ini berbau mitos. Konon, kawasan Sidoharjo, khususnya Dukuh Sidowayah, berdekatan dengan hutan lebat. Tidak sedikit warga yang menganggap keberadaan kampung-kampung down syndrome itu sebagai kutukan. ”Masyarakat di sini masih sangat percaya dengan mistis,” kata Indadi, kamituwo (kepala dukuh Sidowayah).

Meski demikian, tiga kepala desa yang warganya banyak mengidap keterbelakangan mental itu tidak terlalu memedulikan apa penyebab warganya seperti itu. Mereka mengharapkan adanya sebuah langkah serius dari pemerintah untuk menghentikan munculnya generasi baru seperti itu. Tidak hanya itu, seluruh perangkat desa juga dipusingkan dengan masa depan mereka. ”Sebagai Kades, kami tidak bisa berbuat banyak,” tambah Daud kembali. (dim/c6/c4/kum)

kampung Down Syndrome Ponorogo
Warga yang menghuni kampung Down Syndrome Ponorogo. (Dita Putri/Jawa Pos)

Desa Down Syndrome Ketagihan Bantuan, Mbah Katir Mengemis untuk 3 Anaknya

Gara-gara sering diekspos media massa, kampung-kampung down syndrome di Ponorogo semakin ramai dikunjungi tamu. Ternyata, itu malah membuat warga desa di sana ketagihan meminta uang atau imbalan kepada para tamu.

Dua orang itu sama-sama jongkok di serambi rumah yang berdinding gedek (anyaman bambu) dan beralas tanah. Wajah mereka khas, seperti kebanyakan orang yang mengidap down syndrome. Dua orang tersebut, Soinem dan Boimin, adalah adik kakak.

Jika Soinem, 37, selalu cengar-cengir, seperti berusaha tersenyum, tidak demikian halnya dengan kakaknya, Boimin, 39, yang selalu memasang wajah garang. Ketika Jawa Pos memotret kakak beradik itu, tiba-tiba muncul seorang nenek yang sudah cukup renta dari rumah tersebut. Dia mendekati Jawa Pos sambil bertanya, “Mbeto nopo, Mas (membawa apa, Mas)?” kata perempuan bernama Katir tersebut. Nenek 79 tahun tersebut ternyata ibu kandung Soinem dan Boimin. Rupanya, dia meminta Jawa Pos memberinya sesuatu sebagai imbalan telah memotret anak-anaknya.

Dengan menggunakan bahasa Jawa, Katir mengatakan sangat senang jika Jawa Pos memberinya uang. Bagi dia, uang tersebut sangat berharga untuk membiayai hidupnya dan anak-anaknya. Katir mengaku punya enam anak dan semuanya cacat. “Empat anak terakhir down syndrome. Anak pertama dan kedua tuli,” kata salah seorang tetangga Katir, ikut membantu memberikan penjelasan kepada Jawa Pos. Katir tidak ingat nama anak pertama dan kedua itu. “Mbok Katir sudah sering lupa. Anak pertama dan kedua pergi sudah agak lama karena menikah,” paparnya.

Mulai anak ketiga, keempat, kelima, hingga keenam, semuanya down syndrome. Anak ketiga, Katir menyebutnya Kampret, meninggal dua bulan lalu di usia 45 tahun. Anak keempat, Painah, saat Jawa Pos ke sana keluar rumah. Boimin adalah anak kelima dan Soinem merupakan anak bungsu. Jadi, sehari-hari Katir tinggal bersama suaminya yang sudah sangat renta dan tiga anaknya itu, yang semuanya down syndrome. Yang membedakan Painah, 42, dengan dua saudaranya itu, dia masih bisa diajak bekerja. “Dua anak saya itu (Boimin dan Soinem, Red) bisanya hanya duduk-duduk di rumah,” ucap Katir dengan tatapan wajah sedih.

kampung Down Syndrome Ponorogo
Warga yang tinggal di kampung Down Syndrome Ponorogo. (Dita Putri/Jawa Pos)

Dukuh Sidowayah, Desa Sidoharjo, Kecamatan Jambon, tempat Katir tinggal, memang termasuk kawasan yang sangat miskin. Belakangan, dukuh itu kerap didatangi tamu yang penasaran dengan cap kampung down syndrome di kawasan tersebut. Jawa Pos berjumpa dengan beberapa orang dari luar Ponorogo yang menyatakan sengaja datang ke sana karena penasaran. Banyaknya tamu yang datang ternyata direspons dengan sikap warga yang semakin berani untuk meminta imbalan. Hal itu dibenarkan oleh Indadi, kamituwo (kepala dukuh) Sidowayah yang hari itu mendampingi Jawa Pos.

“Mereka menjadi bergantung terhadap bantuan,” terang Indadi. Bukan hanya uang yang menjadi sasaran penduduk desa. Kondisi down syndrome yang dialami beberapa warga itu juga menjadi “senjata” untuk menarik bantuan dari pemerintah. Tidak henti-hentinya bantuan dikucurkan untuk warga desa tersebut. Mulai garam beryodium, beras, bahkan ternak.

Sayang, tujuan bantuan itu, yakni mengentaskan dan membuat warga desa berdikari, sepertinya, tidak akan tercapai. Para penduduk seolah telanjur terbiasa meminta barang kepada para pengunjung. Alih-alih memberdayakan diri dengan memanfaatkan bantuan, mereka lebih memilih menggantungkan diri pada “pendapatan” dari para pengunjung.

“Itu yang harus diubah. Pemerintah harus memberikan bantuan yang sifatnya memancing mereka untuk berdaya,” tegas Indadi. Memang, selama ini bantuan yang diberikan tergolong instan. Warga menerima dan menikmati bantuan, lalu bantuan habis dan mereka menanti bantuan lagi. Pemberdayaan itu juga yang diharapkan oleh Kades Pandak Yaimun. “Percuma kalau hanya terus diberi makan,” ungkapnya.

Desa Karangpatihan juga mulai merasakan “nikmatnya” memiliki warga yang menderita keterbelakangan mental. Sebab, desa tersebut mendapatkan banyak bantuan dari Gubernur Jatim Soekarwo, mantan Pangdam V Brawijaya Mayjen Suwarno, dan pihak lain. “Jalan desa ini sepanjang 5 kilometer diaspal karena ada orang-orang itu (down syndrome, Red),” ujar Kades Karangpatihan Daud Cahyono.

Sebelumnya, jalan daerah tersebut memang masih berupa jalan makadam dan tanah. Banyaknya pejabat dan kunjungan membuat jalan itu dibangun. Daud masih ingat betul, pada 2010 Soekarwo dan Suwarno memberikan bantuan ternak. Keluarga atau warga down syndrome yang masih bisa diajak bekerja diberi beberapa ekor ternak. (dim/c11/kum)

Benarkah Hanya karena Kurang Yodium?

Apa yang menyebabkan munculnya kampung down syndrome di tiga desa: Sidowayah, Karangpatihan, dan Pandak, Kabupaten Ponorogo? Jika pertanyaan ini disodorkan kepada para petugas di dinas kesehatan (dinkes) kabupaten itu, mereka sudah punya jawaban: karena kurangnya yodium yang dikonsumsi warga.

Kadinkes Ponorogo Andy Nurdiana Diah mengatakan, kekurangan yodium yang berakibat pada munculnya gangguan akibat kekurangan yodium (Gaky) cukup beralasan. Itu disebabkan kondisi geografis Ponorogo yang dikelilingi pegunungan kapur. Nah, kapur itulah yang menurut Andy tidak bisa menyimpan nutrisi. Salah satunya yodium. ”Itu diperkuat hasil penelitian,” tandasnya.

Selama ini Andy mengklaim telah melakukan berbagai penelitian dengan pihak ketiga. Hasilnya, kandungan yodium di tiga desa yang banyak dihuni warga down syndrome itu memang sangat minim. Bahkan, bisa dikatakan nol persen alias tidak ada kandungan yodium sama sekali. Itu didapat dari sampel tanah dan air di wilayah tersebut. ”Yang ada justru logam berat. Itu bisa mengganggu penyerapan yodium,” terangnya.

Dia mengakui, kasus yang terjadi saat ini adalah warisan Ponorogo zaman dahulu. Pada masa-masa itu lebih banyak lagi warga yang mengalami down syndrome karena kerasnya lahan Ponorogo. Kasus yang tersisa, menurut Andy, ibarat monumen hidup Ponorogo. Sejarah dan hasil penelitian itulah yang menjadi tameng, seakan-akan hal itu menjadi lumrah.

Meski demikian, dia tidak rela jika pihaknya dituding lamban bergerak. Andy justru mengklaim Pemkab Ponorogo telah berhasil menekan angka down syndrome. Indikatornya adalah tidak ada lagi kasus baru karena diintervensi sejak 30-40 tahun lalu. Kalaupun ada kasus baru, sangat mungkin ada penyakit penyerta dan bukan kasus Gaky murni.

Pernyataan itu berbeda dengan kondisi di lapangan. Di Desa Pandak, Kecamatan Balong, misalnya. Di sana masih ada seorang balita berusia tiga tahun bernama Melissa yang mengalami down syndrome. Begitu juga di Desa Sidowayah, Kecamatan Jambon, yang diakui salah seorang perangkat desanya, bahwa masih ada beberapa balita yang mengalami keterbelakangan mental.

Menanggapi fakta itu, lagi-lagi dinkes berlindung di balik penelitian yang dilakukan beberapa waktu lalu. Dikatakan bahwa saat ada masalah pada kurangnya asupan yodium. Dinkes yakin, tidak ada kasus Gaky murni karena intervensi yang dilakukan sudah berjalan lama. Mulai pemberian kapsul hingga suntikan yodium. ”Sampai saat ini puskesmas masih mengedarkan garam beryodium,” tegas Andy.

Lantas, bagaimana dugaan tingginya down syndrome karena pola hubungan pernikahan sedarah atau incest? Andy enggan berkomentar banyak meski Wakil Bupati Yuni Widyaningsih menyatakan penyebab lain munculnya kampung down syndrome karena incest. ”Sampling penelitian dari orang-orang Gaky tidak kami temukan faktor hubungan sedarah,” paparnya.

Meski demikian, dia tidak menutup mata terhadap hal itu. Alasannya, kawasan yang terpencil dan seperti terisolasi itu membuat kesempatan untuk menjalin hubungan sedarah bisa saja terjadi. Keterbatasan pola interaksi dengan masyarakat bisa membuat faktor itu bisa dimasukkan ke dalam dugaan penyebab. ”Tapi, penelitian kami menyatakan tidak ada,” tegasnya..(dim/c2/kum)

kampung Down Syndrome Ponorogo
Warga yang tinggal di kampung Down Syndrome Ponorogo. (Dita Putri/Jawa Pos)
Kisah Yaimun; Mengabdi Jadi Kepala Desa di Kampung Down Syndrome

Jika di desa lain, kepala desa (Kades) adalah jabatan menggiurkan sehingga diperebutkan. Mungkin itu tidak berlaku di Desa Pandak, Kecamatan Balong, Kabupaten Ponorogo. Selain sangat miskin, desa tersebut adalah salah satu kawasan yang dihuni banyak warga down syndrome. Apa yang membuat Pak Kades di sana betah?

DHIMAS GINANJAR, Ponorogo

Lelaki itu masih muda, umurnya 38 tahun. Perawakannya tegap. Dialah Yaimun. Dia sudah tiga tahun ini menjabat kepala desa Pandak, Kecamatan Balong, Kabupaten Ponorogo.

Di kalangan warga, Yaimun dikenal dengan motornya, yakni Honda Win. Jika ada suara motor yang terdengar dari kejauhan, meski belum lihat siapa yang mengendarai motor itu, warga sudah bisa menebak, pasti itu Pak Kades Yaimun. “Sebab, yang punya motor di sini sangat jarang. Bisa dihitung dengan jari. Apalagi, nggak ada yang menyamai suara motor saya,” kata bapak satu anak itu sambil tertawa ngakak.

Dengan motor itulah Yaimun secara berkala mengunjungi warganya. Secara keseluruhan, medan di Desa Pandak sangat tidak ramah untuk dilalui kendaraan bermotor. Warga di sana lebih suka berjalan kaki untuk bepergian. Maklum, jalan desa yang memiliki luas 10,185 ha tersebut masih berupa tanah dengan tanjakan dan turunan yang ekstrem. “Dengan motor ini, saya bisa sampai ke pucuk-pucuk gunung,” kata Yaimun, membanggakan motor kesayangannya itu.

Kondisi Desa Pandak memang memprihatinkan. Lebih dari 90 persen wilayahnya berupa tanah liat. Hampir seluruh rumah penduduk di sana tidak berdinding tembok. Kebanyakan berdinding kayu atau gedek (anyaman bambu). Alas rumah pun dibiarkan seadanya, berupa tanah tanpa ubin, apalagi keramik.

Menjadi Kades yang wilayahnya dihuni banyak warga down syndrome atau penderita keterbelakangan mental merupakan tantangan tersendiri bagi Yaimun. “Yang bisa saya lakukan hanya mengunjungi mereka sambil mengusahakan bantuan untuk mereka,” ungkap lulusan STM itu. Berdasar data yang ada, jumlah warga down syndrome di Desa Pandak 53 orang. Mereka terdiri atas usia balita hingga 35 tahun.

Siang itu (3/3), Jawa Pos diajak mengunjungi beberapa warga Yaimun yang mengidap keterbelakangan mental dengan mengendarai motor tersebut. Tempat pertama yang didatangi adalah rumah pasangan Misman, 30, dan Jarmiatin, 27. Pasangan suami istri itu sungguh kasihan. Selain miskin, anak mereka satu-satunya, Sahrul Rosikin, 7, tumbuh tidak normal. “Kadang dia kejang dan tubuhnya membiru seperti pasien jantung bocor,” tutur Yaimun. Selain itu, tangan dan kaki Sahrul mengecil.

Ketika ditanya Jawa Pos, pandangan kosong Jarmiatin lantas tertuju ke kandang ternak di sisi kanan rumahnya. Dia menceritakan proses lahir Sahrul yang dipangkunya itu. Dia masih ingat betul, saat hamil anaknya, dirinya tidak banyak mengonsumsi makanan bergizi. “Setiap hari makan tiwul (makanan dari singkong, Red) tanpa susu atau makanan tambahan,” kenangnya, sedih.

Saat itu dia sangat khawatir anaknya terlahir cacat. Apalagi, dia juga tahu bahwa banyak warga lain yang punya anak down syndrome. Ketika Sahrul lahir, Jarmiatin sempat lega. “Saat itu saya bersyukur, bayi saya seperti bayi normal,” papar dia. Namun, semua itu berubah saat usia anaknya menginjak lima bulan. “Dia kejang dan membiru. Dibawa ke dokter, katanya saraf otak yang kena,” imbuhnya. Karena didera kemiskinan, dia dan suaminya tidak bisa berbuat banyak.

Setelah dari rumah Jarmiatin, Jawa Pos diajak ke rumah Janem. Perempuan 70 tahun itu tinggal dengan dua anaknya yang sama-sama down syndrome. Mereka adalah Bandi, 43, dan Jemari, 40. Saat Jawa Pos bertamu ke rumah Janem, Bandi dan Jemari duduk-duduk santai di dapur. Mereka selalu tertawa. Kadang Bandi dan Jemari bergantian mengejar ayam sambil terus tertawa. “Ya seperti itu mereka setiap hari,” terang Janem.

Menurut Yaimun, keluarga Janem adalah salah satu keluarga yang hampir setiap hari dipantaunya. “Saya selalu mengecek persediaan makanan mereka. Kalau akan habis, saya carikan bantuan,” ujar Yaimun yang asli warga Desa Pandak itu.

Seperti itulah aktivitas Yaimun selama menjabat Kades. Ditanya tentang apa yang membuatnya tertarik menjadi Kades, Yaimun tidak langsung menjawab. Tak lama berselang, dia berkata, “Sejak saya kecil sampai sekarang, kondisi di desa ini tak banyak berubah. Itulah yang membuat saya tertantang untuk maju menjadi Kades. Saya ingin membangun desa ini,” katanya, bersemangat.

kampung Down Syndrome Ponorogo
Warga yang tinggal di kampung Down Syndrome Ponorogo. (Dita Putri/Jawa Pos)

Desa Pandak memang seperti terisolasi. Memasuki kawasan itu, pengunjung harus melewati jalan yang cukup panjang, yang kanan kirinya berupa sawah atau hutan. Sembako sudah masuk ke Pandak meski akses transportasi sulit. “Butuh sedikitnya delapan kilometer perjalanan untuk bisa dapat sembako,” jelasnya.

Selain itu, minimnya akses transportasi membuat 3.980 warga terkungkung di wilayah itu. Roda perekonomian jelas macet karena warga tidak bisa leluasa menjual hasil sawah mereka. Jagung, misalnya. Di Pandak, harga per kilogramnya hanya Rp 2.000. Padahal, di luar desa, jagung bisa ditebus dengan harga hingga Rp 3.200 per kilogram. “Jual beli hanya berputar di dalam desa,” terangnya.

Pada musim kemarau, menurut Yaimun, kondisi di desanya lebih parah. Semua pohon di kawasan Pandak akan kering. Air pun sulit dicari. Saat musim hujan seperti sekarang saja, satu sumur berkedalaman 30 meter digunakan beramai-ramai oleh warga hingga radius 300 meter. “Di sini memang serbasusah,” tuturnya.

Karena itu, sebagai putra daerah, Yaimun menginginkan segera dibangun jalan di desanya. Saat ini, dari total 15 kilometer akses, yang diaspal baru 500 meter. Perinciannya, jalan makadam sekitar 10 kilometer dan sisanya masih berupa tanah liat. Perkembangan desa itu, menurut dia, sangat lambat.

Yaimun pernah kesal. Tepatnya saat tim dokter datang ke Pandak beberapa waktu lalu. Dia kesal karena dokter tersebut tidak membawa obat-obatan, melainkan hanya berceramah kepada warganya. Padahal, untuk datang ke lokasi pertemuan itu, warganya harus berjalan kaki cukup jauh.

Meski demikian, sebagai Kades, Yaimun menyatakan kerap terhibur juga dengan keberadaan warga yang menderita down syndrome. Kala ada kritik pedas soal pekerjaannya, dia berkunjung ke warganya yang sakit tersebut. Dia mengungkapkan, kala itu beban dan penat yang ada bisa langsung hilang begitu dirinya melihat senyum atau tingkah warga yang menderita keterbelakangan mental tersebut. “Melihat mereka membuat saya bersyukur. Sebab, saya bisa hidup normal seperti ini,” katanya, lantas tersenyum. (c11/kum)

11 comments On Kampung Down Syndrome di Ponorogo, Antara Mitos dan Kemiskinan “Abadi”

Leave a reply: