sierra soetedjo

Sierra Soetedjo Bukan Jazzer Biasa, Menyanyi dengan Bekal Pendidikan Formal

Sierra Soetedjo tidak salah memilih jazz sebagai jalur musiknya. Buktinya, debut album bertajuk Only One miliknya merambah Singapura dan Malaysia sejak dipasarkan Januari lalu.

TIDAK banyak penyanyi baru yang memilih jalur musik Jazz. Apalagi belantika musik Indonesia masih didominasi lagu-lagu pop. Berbekal ilmu menyanyi yang didapat dari Western Australia Academy of Performing Arts (WAAPA), Sierra mencoba menaklukkan pasar ”sulit” itu.

Meski ilmu yang dimiliki membuat kualitas suaranya menjadi sangat layak masuk telinga, faktor keberuntungan ternyata tidak bisa lepas dari karirnya saat ini. Dia lantas menceritakan awal perjalanan karirnya yang dimulai dari Negeri Kanguru, ketika dia memutuskan untuk melanjutkan SMA di Australia pada 2000.

Selepas SMA, dia melanjutkan sekolah di Curtin University Australia dan mengambil jurusan bisnis. Namun, pendidikan itu tidak dijalani sampai tuntas. Dengan alasan sudah tidak cocok lagi kuliah bisnis, Sierra mencoba mencari sekolah lain. ”Saat itu WAAPA membuka audisi,” ujarnya.

Setelah dipikir-pikir, akhirnya anak pertama pasangan Jimmy Soetedjo dan Sylvia Gunawan itu memutuskan untuk ikut audisi tersebut. Dia yakin, kemampuan olah vokalnya yang terasah ketika menyanyi di gereja saat remaja menjadi modal utama.

Apalagi Sierra pernah mendapat sertifikat kejuaraan menyanyi di Australia. Saat itu dia ikut kompetisi Bunbury Eisteddfod 2001 di Kota Bunbury Perth. Di sana dia berhasil mendapat beberapa awards. Yaitu, juara 1 menyanyi solo, popular solo, sacred solo, dan vocal trio. Dari kompetisi itu, ada kisah yang selalu dia kenang.

Dengan senyum mengembang, dia menceritakan bahwa lagu yang membuatnya menjadi juara adalah lagu pop Indonesia. Lagu apa itu? Dengan malu-malu dia menyebut Menghitung Hari yang dipopulerkan Krisdayanti sebagai satu lagu yang dibawakan di Australia. Itu adalah satu-satunya lagu Indonesia yang dia bawakan di kompetisi tersebut. ”Yang lain, lagu Barat semua,” imbuhnya.

Tanpa diduga, pemilik nama lengkap Amanda Sierra Soetedjo itu lolos dari audisi WAAPA. Dua tahun dia habiskan waktunya untuk belajar musik kontemporer dan lulus pada 2005. Namun, dia mengatakan bahwa saat itu kemampuan olah vokal belum spesifik ke jazz. Bahkan, jazz belum mengisi hatinya karena dia lebih suka musik pop, RnB, atau soul.

Dia mulai benar-benar menyukai jazz saat melanjutkan sekolah musik untuk mendapat gelar bachelor. Di program pendidikan yang memakan waktu 1,5 tahun itu, dia mengambil jazz performance. Dewi fortuna kembali menghampirinya saat dia akan masuk program tersebut. ”Harus ikut audisi lagi,” jelasnya.

Salah satu materi audisi itu adalah scat singing. Itu adalah nyanyian improvisasi dalam musik Jazz. Saat itu dia bingung. Selain tidak terlalu suka Jazz, dia tidak pernah scat singing. ”Grogi banget. Akhirnya saya coba menyanyi sesuai feeling saja sekenanya,” ungkapnya.

Ternyata,hasil dari kali pertama scat singing itu memuaskan. Dia kaget ketika pihak sekolah menyatakan bahwa dia memiliki bakat untuk musik jazz. Dari situlah Sierra mengenal dan mengasah kemampuan jazznya. ”Ternyata ada kepuasan tersendiri dari Jazz. Bisa improvisasi dan eksplorasi lagu,” tuturnya.

Keuntungan lain, bagi dia, tidak ada kata salah dalam improvisasi dan eksplorasi musik yang muncul dari akulturasi budaya Afrika dan Amerika tersebut. Dia juga melihat ada ceruk pasar yang belum tersentuh di musik Indonesia. ”Jazz sudah tumbuh di Indonesia, tapi penyanyinya tidak banyak,” urainya.

Faktor lucky masih menyertainya ketika dia kembali ke Indonesia pada 2008. Temannya mengenalkan dia dengan Tompi. Dia lantas ditawari recording untuk kali pertama di album ketiga Tompi yang berjudul My Happy Life dengan lagu Love Letter. Setelah itu, karirnya mulai bersinar. Berbagai festival jazz diikutinya.

Festival yang dia ikuti, antara lain, Jak Jazz Festival, Java Jazz Festival, dan Just Jazz Festival Semarang. Olah vokalnya yang ciamik membuatnya dipercaya untuk tampil dengan menggunakan namanya sendiri pada Java Jazz Festival 2009. Hal itu benar-benar menyenangkan buatnya.

Dia tidak percaya semuanya bisa berjalan dengan sangat cepat. ”Saya tidak berpikir salah langkah masuk Jazz, yang penting do the best,” ungkapnya.

Namun, karirnya tidak bisa melulu dikaitkan dengan keberuntungan. Sebab, Sierra juga pandai mencari celah pasar. Saat memantapkan diri untuk membuat album, dia memilih seluruh lagu yang dinyanyikan dalam bahasa Inggris. Tidak hanya itu, sebagai debutan, dia merasa pas jika materi albumnya berisi lagu daur ulang.

”Saya pikir penting agar masyarakat kenal saya dulu,” ujarnya. Materi albumnya diisi lagu-lagu yang tak lekang dimakan zaman. Di antaranya, The Only One milik Adi Bing Slamet dan Leaving on a Jet Plane yang populer lewat film Armageddon.

Kelihaian membaca pasar dan keberuntungan membuat dia mampu memikat segmen pasar tersendiri. Sejak di-launching awal tahun, albumnya kini sudah merambah Singapura dan Malaysia. Bahkan, dia yakin sebentar lagi Only One miliknya bisa masuk pasar Filipina.”Musik dalam bahasa Inggris membuat album ini lebih universal,” jelasnya.

Satu langkah berani lain adalah membuat edisi spesial di albumnya yang dibanderol lebih mahal dua kali lipat ketimbang CD musik biasa. Ternyata album tersebut tetap laris manis. Bahkan, dia diberi tahu bahwa album itu menjadi top seller untuk kategori jazz. ”Sepertinya mahal, tetapi album itu memang didesain khusus supaya lebih collectable,” urainya. (dhimas ginanjar/c7/ayi)

Keluar Rumah Harus Dandan

MEMILIKI paras cantik membuat nama Sierra makin cepat melambung. Apalagi di mata kaum adam, penampilannya menjadi nilai tambah agar mau mendengarkan suaranya. Tetapi, percayakah bahwa Sierra justru pernah tomboi?

Dengan malu-malu, dia menceritakan bahwa sewaktu kecil, dirinya tidak seperti sekarang yang anggun. Sierra kecil lebih suka memakai kaus layaknya bocah laki-laki. Penampilannya makin maskulin lantaran memadukan kaus dengan celana model baggy dan sepatu bot.

Karena suka berpenampilan macho itulah, dia berkali-kali ditegur mamanya, Sylvia Gunawan. Tetapi, dia sendiri bingung kenapa bisa berdandan seperti itu. Padahal, lingkungannya tidak didominasi laki-laki. Bahkan, adiknya juga perempuan. ”Mungkin naluri anak pertama yang harus bisa menjaga adik,” katanya, lantas tertawa.

Namun, Sierra kecil yang tidak suka berdandan ala perempuan, termasuk memakai rok, mulai berubah. Teguran orang tuanya berbuah hasil karena memasuki SMP Sierra kecil tidak lagi tomboi. Caranya berdandan saat ini menuai pujian. Penggemarnya menyanjung dengan menjulukinya sebagai the Most Beautiful Indonesian Jazz Singer.

Tidak berlebihan memang. Sebab, Sierra kini andal merawat diri. Meski dia mengatakan bahwa itu sudah menjadi kodrat perempuan, Sierra mengakui untuk urusan dandan, dirinya sangat perfeksionis. ”Aku peduli sama appearance, from head to toe,” ujarnya.

Oleh sebab itu, dia rela membuang banyak waktu untuk bisa menyempurnakan dandanan. Make-up sebisanya dibuat simetris. Maksudnya, antara sisi kiri dan kanan harus sama. Kalau tidak, dia tidak segan membuang waktu lebih lama untuk menyempurnakan penampilannya.

Karena itulah, perempuan kelahiran Jakarta tersebut selalu tampil cantik. Ke mana-mana, dia pasti selalu tampil rapi meski bukan untuk keperluan perform. Baginya, seorang perempuan memang harus pandai menjaga penampilan. ”Nggak mungkin keluar rumah tanpa dandan,” tambahnya.

Bisa menjaga penampilan itu memang tidak mudah. Sebab, dara cantik tersebut harus melakukan berbagai eksperiman agar olesan bedak atau make-up lainnya bisa pas di wajah. Begitu juga tatanan rambut dan cara berpakaian. Dia harus belajar banyak karena Sierra suka berdandan sendiri.

”Tentu itu di luar perform atau foto dan syuting yang memang butuh make-up artist,” jelasnya. Nah, sifat perfeksionisnya akan dandanan makin menjadi saat dia mulai meluncurkan album pertama awal tahun ini. Dia tahu betul kompensasi terjun di dunia entertainment membuatnya harus bisa menjaga penampilan.

Supaya tidak kehabisan ide, dia mencari berbagai referensi berdandan. Biasanya, yang menjadi rujukan adalah situs pemutar video Youtube. Sebab, di sana dia bisa melihat secara langsung cara merias diri. Tidak hanya itu, Sierra juga pernah mengambil kursus pendek tentang modeling. ”Belajar merias, cara berjalan, hinggal angle foto,” jelasnya.

Tidak hanya itu, urusan badan juga dia perhatikan. Agar bentuk badannya tetap terjaga, dia biasa melakukan olahraga ringan. Beberapa favoritnya adalah melakukan stretching exercises, treadmill, dan weigth lifting. Kadang, dia juga nge-dance untuk membakar kalori di tubuhnya. (dim/c6/ayi)

Suka Pria Humoris Sekaligus Smart

ALBUM baru Sierra rilis awal Januari lalu. Hampir bersamaan dengan itu, dia juga punya status baru. Dara kelahiran 26 Juni 1984 itu menjomblo tidak lama setelah Only One keluar. Patah hatinya terobati dengan kesuksesan albumnya.

Meski sedang sendiri, Sierra tidak mudah membuka hati. Sebab, dia menetapkan beberapa kriteria khusus. ”Ada banyak kriteria. Yang pasti, saya suka pria baik, bertanggung jawab, tinggi, smart, romantic, have a good sense of humor, dan easy going,” urainya.

Kenapa? Bagi Sierra, pria dengan rasa humor yang baik bisa membuat hubungan lebih hidup dan tidak berjalan monoton. Begitu juga pria smart. Pria smart bisa menuntun orang pada pengetahuan yang luas. Dia juga butuh laki-laki romantis untuk membuat hubungan tetap hangat.

Bagi anak pertama di antara dua bersaudara itu, easy going juga penting. Dia menyatakan tidak suka laki-laki yang ribet. Laki-laki yang annoying dan tidak tahu diri juga masuk dalam daftar hitam. Yang dimaksud tidak tahu diri, si laki-laki tetap agresif meski dia tidak memberikan respons. ”Kalau sama-sama suka, nggak masalah. Tapi, kalau tidak, bisa gawat,” katanya.

Di usianya kini, Sierra ingin mendapatkan pasangan yang bisa menerima karirnya. Sebab, dia telanjur mencintai profesinya sebagai penyanyi. Dia menuturkan, pendampingnya nanti tidak harus berasal dari dunia entertainment. Namun, itu tidak menjadi harga mati. Dia bisa menjalin asmara dengan siapa pun yang dianggap cocok.

Bagi laki-laki yang ingin mendekati dirinya, Sierra memberikan sedikit bocoran. Ada poin plus bagi laki-laki yang memiliki hobi yang sama dengannya, yakni bisa bermain musik dan menyanyi. Menurut dia, akan menyenangkan bisa melewatkan waktu bersama dengan bermain musik dan menyanyi. (dim/c12/ayi)

Sierra Itu
  • Perfeksionis. Rela membuang waktu lama untuk menyempurnakan pekerjaan.
  • Suka banget sama penyanyi Ella Fitzgerald, Sarah Vaughan, Diana Krall, Jane Monheit, dan Michael Bubble.
  • Sedang suka fotografi.
  • Mulai mencoba menulis lagu sendiri.

Leave a reply: