Satria Bayangkara, Pembuat Visual Effect yang Sukses di Malaysia

Terinspirasi Star Wars, “Keracunan” Avatar

Hikayat Merong Mahawangsa berjaya di ajang Festival Filem Malaysia (FFM) 2011. Siapa sangka, salah seorang tokoh kreatif di balik film tersebut adalah pria asal Indonesia: Satria Bayangkara.

DHIMAS GINANJAR, Kuala Lumpur

MINGGU, 20 November 2011, menjadi malam yang indah bagi kru film Hikayat Merong Mahawangsa. Film yang menelan anggaran RM 8 juta atau sekitar Rp 24 miliar itu berhasil menyabet tujuh penghargaan di ajang Festival Filem Malaysia Ke-24. Di antaranya, kategori seni terbaik, busana terbaik, skor musik terbaik, dan kesan visual khas terbaik.

Nah, salah seorang kru film tersebut ialah Satria Bayangkara. Ya, dia memang bukan pribumi Malaysia. Satria adalah pria kelahiran Bandung, 6 Juni 1983. Satria merupakan salah seorang di antara belasan orang Indonesia yang menggarap visual effect (VE) film Hikayat Merong Mahawangsa. “Terbayar sudah lelah itu,” kata Satria, mengenang sukses yang diraih.

Satria tergabung dalam studio media dan entertainment Malaysia. Di bawah satu VE senior yang juga asal Indonesia, mereka mengerjakan sekitar seribu shoot visual atau lebih dari 25 ribu frame. Padahal, satu detik film membutuhkan 25 frame gambar. Bisa dibayangkan, bagaimana jelimetnya tim yang terdiri atas belasan orang Indonesia itu membuat efek.

Satria lantas membuka iPad. Dia memutar beberapa scene yang menjadi tugasnya di film besutan Yusry Abd. Halim tersebut. Dalam layar selebar 10 inci itu, terlihat Merong sedang menaiki tangga di pinggir pantai. Dari atas terlihat puluhan perkemahan dan kapal layar yang bakal dipakai untuk berperang. Tugas Satria adalah memperbanyak kemah dan kapal yang sebenarnya berjumlah beberapa buah.

Satria juga membuat properti yang minim menjadi “wah”. Tantangan terbesar dari tugas Satria adalah membuat visual itu menjadi senyata-nyatanya. “Membuat sesuatu yang tidak bisa di-shoot kamera jadi masuk,” tuturnya.

Selain Hikayat Merong Mahawangsa, Satria menggarap film anak-anak Malaysia berjudul Magika. Di film yang menghadirkan berbagai bentuk imajinasi itu, dia membuat karakter naga dan pohon yang bisa berbicara.

Berbeda dari Hikayat Merong Mahawangsa yang produksinya menghabiskan waktu hingga setahun, Magika “hanya” menyita waktu tiga bulan bagi anak kedua di antara tiga bersaudara tersebut. “Kejar waktu banget. Karena saat itu sutradaranya butuh cepat selesai,” ujar lulusan Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB tersebut.

Meski dikerjakan cepat, itu tak berarti tidak memusingkan. Satria ingat betul bahwa dirinya harus membetulkan gerak naga yang terkesan janggal ketika film tersebut diuji di layar lebar. Dalam waktu singkat juga, gerak hewan mitos itu dia buat lebih nyata.

Hasilnya pun cukup memuaskan. Kinerja Satria dkk diganjar dengan terpilihnya Magika sebagai Film Terbaik Malaysia 2010. Meski, di satu sisi dia mengakui bahwa deadline yang mepet menjadi momok bagi pekerja visual effect. “Seperti naga di Magika yang harus diperbaiki saat uji coba. Untung, belum ada efek cacat yang lolos koreksi,” imbuhnya.

Portofolio pria yang kini memilih untuk bersolo karir itu dalam membuat visual effect cukup banyak. Kebanyakan memang film Malaysia. Sebab, Satria memang mengawali karir di negeri jiran tersebut.

Semua berawal dari undangan temannya pada pertengahan 2008. Sang teman bekerja membuat visual effect film Magika dan Hikayat Merong Mahawangsa. Mereka butuh media artis. Satria yang lulus dari ITB langsung menyanggupi tawaran untuk berkarir di Malaysia.

Begitu tiba di Kuala Lumpur, Satria membuat opening sebuah film. Lantas, berlanjut ke materi film seperti yang berhasil dimenangi bersama timnya. “Ada film Hollywood judulnya Deadline. Sempat ikut ngerjakan visual effect-nya juga,” tuturnya.

Satria mengungkapkan, ilmu di bangku kuliah hanya mengajarkan estetika atau keindahan. Sedangkan ilmu membuat efek dia pelajari sendiri secara otodidak. “Teknis tidak diajari, hobi yang membuat saya bisa seperti ini,” ungkapnya.

Satria pun tergolong cepat dalam menguasai bidangnya. Saat masuk kuliah pada 2002, dia sebenarnya belum melihat visual effect sebagai sarana untuk meraup rupiah. Dia suka bermain editing foto. Bosan dengan gambar diam, dia lantas mencoba bermain animasi flash.

Dari animasi dua dimensi itu, pria lajang tersebut makin ketagihan. Teman yang memiliki kemampuan lebih di bidang itu dia jadikan “guru”. Buku-buku juga dia lahap untuk menambah perbendaharaan ilmunya tentang membuat animasi. “Waktu pertama bikin, animasinya tidak bisa halus,” kenangnya.

Salah satu film yang menginspirasi Satria untuk terjun di dunia visual effect adalah Star Wars. Terutama, tokoh Yoda yang kemunculannya terus membawa “pembaruan”. Jika di awal kemunculannya tidak bisa banyak bergerak, di edisi belakangan makhluk berwarna hijau itu mulai dipersenjatai dengan pedang.

Satria makin “keracunan” visual effect saat Steven Spielberg mengeluarkan film Avatar. Satria mengatakan, film tersebut layak mendapatkan acungan dua jempol. Dia makin bersemangat karena teknologi saat ini mampu merealisasikan sesuatu yang sebelumnya dianggap mustahil. “Seperti Avatar, konsepnya sudah lama ada. Tapi, baru bisa diwujudkan karena teknologinya sekarang ada,” terangnya.

Kepuasan terbesar Satria adalah visual effect yang dia hasilkan bisa disebut sempurna. Tidak harus dihargai dengan piala, paling tidak efek yang dihasilkan bisa berjalan mulus dan klop dengan cerita. “Senangnya bisa narsis. Bisa bilang, keren banget bikinan gue,” kelakarnya.

Saat-saat paling menyiksa bagi Satria adalah mentok karena tidak ada ide. Ketika momen itu datang, dia memperbanyak nongkrong untuk mencari ilham. Memperhatikan suasana sekitar dan mencatatnya di handphone atau kertas kalau menemukan ide.

Kadang ide suka datang sendiri. Karena itu, Satria senang berada di tempat yang banyak kegiatan. Kadang, dari menonton TV atau duduk di food court, dia bisa menemukan ide. Dia mengatakan tidak banyak mendapatkan inspirasi dari komik atau majalah.

Sukses di Malaysia, Satria bukannya tak memperhatikan film Indonesia. Hanya, dia sedih dengan perkembangan film di tanah air. Kemampuan anak negeri yang menguasai visual effect tidak banyak diterapkan. Apalagi, kebanyakan film yang dihasilkan saat ini ialah horor, dan itu tidak banyak membutuhkan campur tangan visual effect.

“Mungkin orang Indonesia belum ke bisnis ini. Apalagi, visual effect butuh waktu dan biaya besar,” tandasnya. Sambil berkelakar, dia berkata bahwa visual effect lebih “menyelamatkan” aktor. Misalnya, di syuting film horor, tali tidak lagi diperlukan untuk membuat hantu terbang. Untuk menggerakkan rambut, misalnya, tidak diperlukan kipas angin besar yang bisa membuat si hantu masuk angin.

Ambisi pribadinya kini adalah membuat film kolosal Indonesia yang digarap serius. Contohnya, kisah Majapahit atau kerajaan-kerajaan lain. Dia yakin, teknologi yang ada sekarang bisa membuat setting masa lalu dengan lebih sempurna. “Banyak materi sejarah Indonesia yang bisa dibikin film memukau,” katanya. (*/c10/ca)

Leave a reply: