Dan Nok “Surga Dunia” di Thailand Selatan, Kawasan yang Identik dengan Konflik

Thailand Selatan yang berbatasan dengan Malaysia hanya ramai oleh konflik bersenjata? Tidak juga. Ada “oase” bagi para pencari kenikmatan duniawi yang jauh dari desing peluru. Berikut laporan wartawan Jawa Pos DHIMAS GINANJAR yang baru berkunjung ke sana:


DI pos imigrasi Thailand itu, pertanyaan Jawa Pos tak dijawab oleh seorang petugas perempuan: untuk apa uang RM (ringgit Malaysia) 2 (Rp 6.200) yang dimintanya. Bertugas di wilayah perbatasan dengan Malaysia, negeri yang warganya cukup akrab dengan bahasa Inggris, rasanya aneh kalau alasan petugas tersebut tak bisa berbahasa internasional itu.

Saat badge nama dilirik, dengan cepat petugas tadi menutupi nama yang ada di dada kanan. Semakin memperlihatkan bahwa RM 2 yang dimintanya adalah pungutan liar. Memang jumlahnya tak besar. Tapi, bayangkan kalau per hari minimal ada seratus orang yang melintas.

Jawa Pos, rupanya, tak sendirian menjadi korban. Seorang turis asal Australia mengaku malah ”dipajaki” RM 10. Tapi, barangkali, itulah risiko memasuki sebuah wilayah ”surga dunia”.

Gerbang imigrasi di Dan Nok, perbatasan Malaysia dengan Thailand bagian selatan.

Ya, selamat datang di Ban Dan Nok atau biasa dikenal Dan Nok saja, sebuah kota kecil di Distrik Sadao di Provinsi Songkhla, Thailand Selatan, tempat berbagai kenikmatan duniawai tersedia: pijat plus-plus, karaoke ”terintegrasi”, dan wisma ”sambung raga”.

Praktis, prostitusi dengan segala variannya menjadi denyut nadi utama di kota yang panjangnya hanya tiga kilometer tersebut. Di satu kilometer pertama dari Kantor Imigrasi Thailand tadi, misalnya, sedikitnya 85 persen bangunan di 14 gang difungsikan untuk bisnis pemuas syahwat.

Padahal, selama ini setiap mendengar Thailand Selatan yang terbayang adalah konflik bersenjata antara gerilyawan muslim dan pasukan pemerintah. Dari total lima provinsi di perbatasan Thailand-Malaysia, tiga di antaranya menjadi basis perlawanan terhadap pemerintahan pusat di Bangkok, yaitu Pattani, Yala, dan Narathiwat.

Mereka mengangkat senjata karena menganggap Bangkok telah memperlakukan warga Muslim-Melayu di provinsi-provinsi selatan secara tidak adil. Mau tak mau, dua provinsi lainnya, Songkhla dan Satun, juga sedikit banyak ikut kena dampak panasnya konflik yang telah menewaskan ribuan orang tersebut.

Namun, sama sekali tak terlihat kengerian atau kecemasan selepas dari imigrasi Thailand yang sarat pungli tadi. Menginjak Dan Nok, yang terdengar bukan desing peluru, melainkan sapaan sawadee kap, massage? atau yang secara harfiah berarti ”hai, pijat?”.

Pemilik wisma juga biasa menawarkan ”dagangannya” dengan bahasa Melayu, bahasa nasional Malaysia. Begitu yang melintasi wisma di Jalan Thai-Jangloon Soi terlihat seperti Melayu, mereka langsung menyambut dengan sebutan ”Bang”, ”Kak”, atau langsung berbicara ”butuh perempuan?”. Selain itu, mereka terbiasa menawarkan ”jasa” dalam bahasa Inggris dan Mandarin.

Hamid, sopir taksi yang membawa Jawa Pos dari Changloon, Kedah, Malaysia, menjelaskan bahwa konsumen bisnis prostitusi di Dan Nok memang tak sedikit yang berasal dari Malaysia. ”Terutama warga nonkota besar. Mereka suka ke sini,” ujarnya. ”Maklum, tidak gampang mencari tempat seperti ini di Malaysia.”

Changloon dan Dan Nok memang melambangkan kontrasnya suasana perbatasan dua negara. Berbeda 180 derajat dengan Dan Nok yang hiruk, Changloon yang berada di Negara Bagian Kedah adalah kota yang anteng. Boleh dibilang tak ada hiburan malam di kota itu.

Changloon lebih tepat disebut kota pendidikan. Di kota itu berdiri Universiti Utara Malaysia (UUM). Berbagai rumah peribadatan juga mendominasi lanskap kota tersebut.

Dan Nok melengkapi dirinya dengan berbagai bisnis penunjang wisata prostitusi. Jumlah rumah makan hampir sama banyaknya dengan jumlah wisma yang menjajakan pekerja seks komersial. Yang juga memudahkan warga Malaysia atau mereka yang baru datang dari Malaysia, ringgit lebih disukai di Dan Nok.

Orang Thailand lebih suka ringgit karema nilainya lebih tinggi ketimbang bath Thailand. Kurs pun mereka buat sendiri. Yakni, cukup dengan menghilangkan satu nol di belakang nilai baht. Misalnya, tarif hotel adalah 1000 baht, nilai itu sama dengan 100 ringgit.

Daya tarik lain di kawasan perbatasan itu adalah zona duty free alias bebas cukai yang berada di antara Pos Imigrasi Malaysia dan Pos Imigrasi Thailand. Nah, kalau di Dan Nok para tamunya mayoritas adalah laki-laki, di Duty Free justru perempuan lebih dominan. Counter penjual tas, make up, pakaian, atau makanan, terutama cokelat, menjadi sasaran para kaum hawa. ”Barang dari sini boleh dibawa ke Thailand atau Malaysia. Tapi, khusus rokok, tidak boleh masuk Malaysia,” ujar seorang petugas di duty free. (*/c4/ttg)

Gerbang perbatasan antara Malaysia dan Thailand

Penuh Godaan untuk Para Tamu Hotel

TIDAK jelas benar siapa yang mengubah Dan Nok hingga menggantungkan hidup pada pornografi. Yang pasti, saat ini tiap gerak Dan Nok tak terlepas dari bisnis pemuas syahwat.

Bahkan, ketika Anda bermaksud sekadar singgah di hotel, godaan itu datang dalam bentuk channel televisi film porno yang tidak disensor. Setiap tempat penginapan yang memiliki televisi di Dan Nok pasti memiliki channel porno. Materi film tersebut ditentukan sendiri oleh petugas hotel yang dikendalikan melalui komputer.

Kadang, sebelum film dimulai, ada banner hotel yang berisi nomor telepon untuk layanan massage. Film itu diputar 24 jam nonstop tanpa meminta persetujuan sang tamu hotel.

Misalnya, Hotel JK House di 14/100 M7 Jalan Thai Jung Lon. Di tempat resepsionis ada sebuah perangkat yang berfungsi menayangkan film porno tersebut. Penjaga pria berambut gondrong yang mengaku bernama Punnarat mengatakan, film itu adalah koleksi hasil download di internet.

Tidak lupa, sebelum tamu berjalan menuju kamar, dia pasti menawarkan perlu massage atau tidak. Tarif perempuan yang dia tawarkan untuk short time adalah RM 100 (sekitar Rp 310 ribu) dan long time RM 200 (sekitar Rp 320 ribu). “Kalau berminat, Anda bisa menghubungi saya dari telepon di kamar,” katanya.

Akhir pekan adalah saat-saat panen bagi hotel-hotel di Dan Nok. Sampai-sampai pemilik panti pijat tanpa malu-malu menawarkan biliknya sebagai tempat tidur.

“RM 70 (sekitar Rp 217 ribu) saja di kamar pijat. Tapi, tanpa televisi,” promosi seorang penjaga tempat massage. Malam makin larut, bar dan karaoke yang mulai buka pukul 14.00-15.00 makin ramai dikunjungi.

Sebab, di sana jam operasi untuk tempat karaoke hanya dibatasi hingga pukul 24.00. Itu beda dari kelab malam yang bisa tetap menerima tamu hingga pukul 04.00. Di dalamnya, wah, lebih “gila” lagi.

Prostitusi sudah pasti berdampingan erat dengan ancaman berbagai penyakit. Terutama, tentu saja HIV/AIDS. Seorang turis asal Inggris mengaku, seorang temannya tertular penyakit mematikan itu di Dan Nok.

“Saya datang ke sini untuk mencari dua perempuan yang membuat teman saya tertular, saya akan bikin perhitungan,” tegasnya.

Para germo biasanya “menyiasati” ancaman itu dengan mengatakan bahwa mereka rutin memeriksakan para pekerja seks komersial ke dokter. “Untuk kesehatan, jangan khawatir. Kami selalu mengadakan pemeriksaan dokter,” terang A Fu, germo, kepada Jawa Pos.

Lelaki 47 tahunan yang mengaku sudah delapan tahun berbisnis prostitusi tersebut menjelaskan, ada pekerja seks di Dan Nok yang berada di bawah kendali germo, ada pula yang freelance. Nah, untuk yang freelance itu, menurut A Fu, kesehatannya sulit dijamin.

Para perempuan pekerja seks di Dan Nok umumnya berasal dari Vietnam, Laos, Malaysia, dan Thailand sendiri. Mereka rata-rata tak bisa berbahasa Inggris sama sekali. “Itulah yang membuat para tamu kerap mengeluh. Mereka bilang seperti bareng dengan patung, tak saling bicara he… he…,” ucap A Fu yang mengaku pernah beberapa bulan bekerja di Jakarta. (dim/c10/ttg)

Kota Dan Nok saat malam hari

Aman dari Api Konflik Bersenjata

PROVINSI Pattani yang menjadi episentrum perlawanan kelompok muslim yang ingin memisahkan diri dari Thailand memang berjarak 200 kilometer (km) dari Dan Nok atau sekitar enam jam perjalanan darat.

Tetapi, tetap saja Dan Nok berada di kawasan Thailand Selatan, zona “merah” di Negeri Gajah Putih tersebut. Dan Nok masuk Provinsi Songkhla yang berbatasan dengan Pattani, Yala, Narathiwat, tempat para gerilyawan muslim bermarkas. Sejak 2003, efek panas konflik bersenjata di tiga provinsi itu sedikit banyak juga terasa di Songkhla.

Penjagaan perbatasan dari Kelantan, Malaysia, yang menuju Pattani dan Yala di Thailand serta sebaliknya juga sangat ketat. Agak beda dengan kawasan perbatasan Malaysia-Thailand di Changloon dan Dan Nok, yang boleh dibilang longgar.

Lalu, bagaimana pengaruh konflik di wilayah tetangga itu bagi bisnis prostitusi di Dan Nok? Menurut A Fu, seorang germo, tidak ada pengaruh. Dan Nok aman, tak tersentuh konflik. Selama delapan tahun dia berbisnis di sana.

Bukan hanya gerakan separatis, kepolisian juga dia sebut tidak pernah menyentuh Dan Nok. “Tidak ada razia di sini,” ucap dia.

Memang selama Jawa Pos di Dan Nok, tak pernah terlihat polisi berpatroli. Kalaupun ada petugas, mereka hanya berjaga di pos imigrasi. A Fu menjelaskan, bisnis di Dan Nok boleh dibilang sudah direstui.

Selama tidak mempekerjakan gadis di bawah umur, tidak akan ada aparat yang rewel. Karena itulah, dia menyebut tidak perlu ada ketakutan saat bersenang-senang di Dan Nok. “Kecuali Anda melakukan kejahatan, baru polisi akan datang,” urainya.

Wildan, 45, seorang yang mengaku bekerja di keimigrasian Kuala Lumpur International Airport (KLIA) membenarkan itu. Dia senang berada di Dan Nok karena keamanannya sebagai pendatang tidak pernah terganggu. “Selama ini aman-aman saja. Kota ini cukup menyenangkan,” katanya saat ditemui Jawa Pos di pangkalan bus Dan Nok. (dim/c11/ttg)

Situasi kota Dan Nok yang berada di perbatasan Malaysia dan Thailand

Leave a reply: