Dini Indra dan Konsep Style Keeper yang Dicetuskannya

Pilih Dagang Tas, Ketimbang Finance Consultant di Tokyo

PEREMPUAN mana yang tak bangga bisa menenteng tas bermerk dan asli seperti Louis Vuitton, Prada, Hermes, Gucci, Channel, hingga Christian Dior. Apalagi, kalau bisa gonta-ganti hingga 24 tas dalam setahun, tanpa harus pusing memikirkan nominal yang harus dikeluarkan. Dini punya solusinya.

DHIMAS G – JANESTI, Jakarta

ADA dua ruangan di kantor yang bertempat di Lantai 31 Tower 1 Apartemen Batavia, Bendungan Hilir, Jakarta itu. Masing-masing memiliki luas sekitar 4×3 meter dan 3×3 meter. Makin terasa sempit dengan beberapa lemari besar yang dijadikan tempat penyimpanan sekaligus display tas.

Lantaran menjadi display, penutup lemari tersebut terbuat dari kaca. Jadi, meskipun sempit, warna-warni dan desain tas bermerk yang elegan ikut menjadi aksesori di dua ruangan itu. ’’Sekaligus memudahkan member kami untuk memilih tas yang akan dibawa,’’ ujar Dini lantas tersenyum.Perempuan cantik itu lalu menuju ke sebuah meja kecil berwarna putih yang terletak didekat jendela. Sebelum duduk, dia menyingkirkan tas Hermes Waffle Kelly miliknya ke meja yang berada diseberangnya.

Bulan Mei lalu Dini baru saja melaunching Butterfly Republic. Itu merupakan wadah yang memfasilitasi perempuan untuk bergaya. Sementara ini yang bisa difasilitasi oleh Dini adalah bergaya dengan tas branded yang harganya mahal itu. Ya, anggota Butterfly Republic yang digagas Dini memang bisa memilih tas-tas tersebut untuk dibawa pulang. Asal, gonta-gantinya tidak lebih dari 24 tas dalam setahun. Enaknya lagi, untuk member di Jakarta, Dini juga tak segan-segan untuk mengantar tas mahal tersebut hingga depan pintu rumah.

Konsepnya menarik. Perempuan kelahiran Malang, 9 September 1979 itu mematok modal Rp 26 juta bagi tiap anggota untuk satu tahun. Rinciannya, Rp 20 juta digunakan untuk membeli dua tas yang masing-masing harganya tidak boleh lebih murah dari Rp 10 juta.

Sedangkan sisanya, digunakan untuk iuran keanggotaan yang ’’hanya’’ Rp 500 ribu per bulan selama setahun. Bisa lebih murah lagi, kalau member tersebut sudah punya dua tas bermerek di rumah. Dua tas itu bisa dijadikan deposit dan tidak perlu beli tas lagi.

Untuk quality control, Dini yang akan menilai nominal tas tersebut sehingga dia bisa menentukan kelas yang mana yang sesuai. Jadi, tinggal bayar iuran bulanan saja. Disamping itu, dia juga menerima trading tas. ’’Konsepnya, 2 for 24. Investasi 2 tas, bisa pakai 24 tas lainnya,’’ imbuhnya.

Kalau tidak punya waktu untuk membeli tas, Dini yang akan terbang ke Eropa atau Jepang untuk membeli tas original tersebut. Nah, tas demi tas yang menumpuk di kantornya itulah yang bisa dibawa pulang member. Anggota juga tidak perlu pusing dengan perawatan karena semua ditanggungnya.

Sambil menunjukkan beberapa tas, dia lantas mengatakan kalau iuran Rp 26 juta bagi sebagian orang memang masuk kategori mahal. Namun, keuntungan yang didapat jauh lebih murah ketimbang membeli tas sendiri. ’’Anggap satu tas Rp 10 juta, kalau mau pakai 24 tas berarti harus keluar uang Rp 240 juta,’’ tandasnya.

Member yang terdaftar dengan iuran Rp 26 juta tentu hanya boleh memakai tas yang range harganya Rp 10-20 juta per buah. Kalau ingin memakai tas yang yang harganya Rp 21-40 juta (gold) atau Rp 41-60 juta (platinum), iurannya beda lagi. Ternyata, sebulan jalan lebih banyak yang memilih menjadi member platinum ketimbang silver.

Meski terkesan mahal, ide yang digagas oleh pemilik senyum manis itu ternyata laris manis. Buktinya, total tas yang ada di kantornya mencapai 40an buah dengan range harga berbeda. Artinya, dalam waktu yang relatif singkat, dia bisa memikat sekitar 20 member. ’’Saya tidak menyangka, konsep ini diterima banyak orang,’’ tuturnya.

Saat bercerita, lulusan Universitas Moestopo tahun 2003 itu masih tidak bisa menyembunyikan raut takjub atas bisnisnya. Senyum dan tawanya terus diumbar. Dia masih heran, kenapa membernya lebih banyak yang memilih platinum. Padahal, bisnis yang baru dilaunching pada akhir Mei itu bertujuan awal untuk memfasilitasi kaum menengah.

Bagi perempuan yang meninggalkan Malang saat masih kecil itu, ’’memelihara’’ kaum menengah adalah realistis. Sebab, mereka masih suka memusingkan biaya saat harus bergaya dengan tas original. Tidak seperti sosialista kelas atas yang memiliki anggaran cukup untuk gonta-ganti tas dengan membelinya.

Kelas tersebut memang sengaja tidak dia sentuh, sebab orang-orang kaya umumnya ingin eksklusif. Seperti, barangnya tidak ingin dipakai orang lain. Mereka juga disebutnya lebih memilih untuk membeli barang baru dan menumpuk ketimbang tukar menukar barang. ’’Beda dengan middle class, ada celah untuk masuk,’’ lanjutnya.

Apalagi, secara lifestyle warga middle class juga tetap memiliki kegiatan yang butuh penampilan seperti saat arisan. Dikatakan juga, kalau dulu warga suka bermain dengan warna warni kini berganti ke brand. Termasuk mencocokkan barang saat akan bertemu dengan klien.

Tidak lucu kalau saat bertemu dengan klien dari pemegang label Channel, tapi dia memakai produk Gucci. Kalau beli hanya untuk pertemuan itu, tentu saja akan sangat mahal. Karena itulah, bisnisnya bisa diterima oleh kalangan middle class. ’’Bisa dikatakan juga kalau ini menjadi cara untuk menjaga mereka tetap stylist. Jadi semacam stylist keeper,’’ terangnya.

Pundi-pundi rupiah lantas mengalir lancar ke rekeningnya. ’’Keenakan’’, akhirnya dia memilih untuk fokus ke bisnisnya saat ini. Padahal, karirnya selama ini bisa dikatakan cukup moncer. Dia sempat menjadi finance consultant salah satu perusahaan ternama di Tokyo, Jepang. Wajah cantiknya juga membuat dia menjadi model iklan Uniqlo, merk pakaian Jepang. Selama lima tahun dia meniti karir di negeri Sakura.

Kalau dihitung-hitung, lulusan Ilmu Komunikasi itu sebenarnya sudah memiliki pengalaman di bidang finance selama 10 tahun. Namun, dia memilih untuk fokus dirintisan bisnisnya saat ini karena dinilai lebih menguntungkan. ’’Kalau di finance pusing, ngitungin duit orang melulu tapi duuit punya saya segitu saja,’’ katanya lantas terbahak.

Dia lantas menceritakan bagaimana awalnya bisa terjun di bisnis ini. Berawal dari ketidaksengajaan saat dia masih di Tokyo sejak 2007. Di Tokyo banyak terdapat toko secondhand branded. Toko-toko di sana menjaga betul kualitas barang yang dijual. Jadi, barang yang dijual bisa dijamin keasliannya. Suatu ketika, salah seorang teman minta bantuannya untuk membelikan tas merek tertentu. Tentu saja, dengan budget tertentu yang sudah disampaikan pada Dini sebelumnya.

Lantas, dicarinya tas yang diminta temannya dan didokumentasikan melalui ponselnya. ’’Saya kirim gambarnya ke teman, kalau cocok baru ambil,’’ terangnya. Termasuk menunjukkan majalah-majalah yang berisi katalog second hand branded di Tokyo. Setelah dapat, tas tersebut dikirim ke Indonesia melalui jasa pengiriman. Diakuinya, urusan custom atau bea cukai juga dilalui semua. Ternyata, sukses dan pesanan terus membanjiri ponselnya.

Jasa pembelian barang yang dirintisnya juga laris manis. Getok tular pun berjalan, promosi dari mulut ke mulut berjalan baik. Berbanding lurus dengan nominal titipan yang bertambah, dari Rp 5 juta beranjak ke Rp10 juta, Rp 50 juta, bahkan sampai Rp 200 juta. Semuanya ditransfer dimuka.

’’Saya juga tidak menyangka, mereka bisa percaya kepada saya. Padahal, kalau mau nakal bisa saja uang mereka saya bawa lari,’’ tandasnya. Itulah kenapa, sampai sekarang dia masih menjaga penuh kepercayaan itu. Baginya, sedikit member saat ini tak masalah yang penting mereka puas dengan pelayanannya.

Ada kejadian lucu saat dia masih di Tokyo. Sebagai penyuka tas, dia mengaku sangat shock saat menemukan dua tas traveling bag Louis Vuitton di tempat sampah apartemennya. Tas super mahal itu dibiarkan saja teronggok ditumpukan sampah. Beruntung, tempat sampah apartemen di Tokyo tidak sejorok di Indonesia.

Lantas, dengan panik dia ambil tas tersebut untuk dibersihkan. Begitu masuk di kamar apartemen, dia menuju kamar mandi. Dibersihkannya, tas tersebut dengan telaten. ’’Saking ngerasa, ya ampun gue aja belum pernah punya travelling bag LV. Ini malah dibuang di tempat sampah,’’ kenangnya.

Sayang, tenaga yang terbuang ternyata tidak memenuhi hasratnya untuk memiliki travelling bag mahal gratisan. Ternyata, tas tersebut sudah sangat kaku dan tidak bisa tertolong. Sambil menangis dia mengaku mengembalikan tas tersebut ke tempat sampah lagi.

Sejak saat itu dia mulai belajar banyak tentang perawatan tas, termasuk untuk menjawab pertanyaan kenapa tas tersebut bisa kaku. Selidik, ternyata tas memang tidak bisa dibiarkan terus ada didalam ruangan. Idealnya memang harus diangin-angin. Akhirnya, saat merintis bisnis di Butterfly Republic semua tas dia rawat dengan baik.

Sadar bahwa bisnisnya diterima baik, Dini mengaku punya mimpi besar lain. Dia akan mengembangkan bisnisnya ke beberapa kota besar seperti Surabaya dan kota kelahirannya Malang. Disamping itu, dia juga ingin merambah koleksinya ke tas laki-laki, dan baju dengan konsep one stop service.

Leave a reply: