Geliat India Membangun Infrastruktur Kota

Kollywood, Kawasan Industri Film India Pesaing Bollywood

Syuting dengan Satu Kamera, Mundhanai Mudichu Jadi Idola 
Gerbang studio AVM, salah satu studio tertua di Kollywood

Selain Bollywood, India ternyata punya kompleks industri film yang tidak kalah besar. Namanya Kollywood. Lokasinya di Kodambakkam, salah satu distrik di Chennai, ibu kota negara bagian Tamil Nadu. Seperti apakah Kollywood? 

MELINTAS di jalan-jalan Kodambakkam, mata harus rajin melihat ke kanan dan ke kiri. Sebab, bagi turis asing seperti kami, pemandangan di beberapa ruas jalan itu cukup menarik perhatian. Poster-poster film terbaru dipajang berderet-deret di pinggir-pinggir jalan.

Misalnya, untuk September ini saja, minimal ada sepuluh judul film baru yang sedang dirilis di bioskop-bioskop yang bertebaran di Chennai. Semua film itu pun produksi dalam negeri. Tidak terlihat satu pun film asing dipromosikan. Salah satu film yang gencar diiklankan adalah 6 Melugu Vathigal atau 6 Lilin. Film bergenre drama tersebut dibintangi Shaam, Poonam Kaur, dan Anil Murali dengan sutradara V.Z. Dhorai.

Ketika taksi kami makin dalam menyeruak jalan-jalan Kodambakkam, makin jelas bahwa kawasan itu merupakan kompleks industri film yang cukup besar.

‘Di sini memang banyak studio film dan bioskop. Hampir semua film yang diputar diproduksi di sini,” kata Dharani, sopir taksi yang membawa kami keliling Chennai, pekan lalu.

Seperti halnya Bombay (sekarang jadi Mumbai) yang dikenal sebagai Bollywood (Hollywood-nya India), Kodambakkam mempunyai sebutan baru dengan Kollywood. Yakni, kawasan industri film India yang tidak kalah besar dan siap menyaingi Bollywood.

”Orang sini senang nonton film. Coba saja masuk di salah satu bioskop, pasti penuh orang mau nonton,” kata Dharani.

Antusiasme warga setempat terhadap film-film produksi dalam negeri itulah yang membuat Kollywood tumbuh pesat sebagai salah satu pusat industri film di India. Selain banyaknya produksi film, bioskop ada di mana-mana. Di Chennai, kata Dharani, lebih dari 250 bioskop bertebaran di sudut-sudut kota. Ada yang model mini-sinepleks maupun bioskop yang berkapasitas ratusan penonton.

”Film-film di sini umumnya menggunakan bahasa Tamil. Warga juga lebih suka nonton film produksi lokal (Kollywood) daripada film Hollywood atau Bollywood,” imbuhnya.

Iklan-iklan bioskop di koran-koran lokal juga cukup mewarnai. Bahkan, hampir setiap hari ada saja iklan film satu halaman untuk menarik perhatian pembaca.

Kami akhirnya sampai di depan AVM Studios, salah satu studio film yang cukup tua di Kollywood. Studio tersebut berproduksi sejak 1940. Film pertama yang diproduksi berjudul Bhoo Kailas yang disutradarai Sundar Rao Nadkarni.

Didirikan di area yang cukup luas, studio tersebut punya beberapa bangunan berpagar tinggi. Masing-masing bangunan mempunyai fungsi sendiri. Yang satu untuk lokasi syuting, satu lagi untuk proses editing, dan satu bangunan lainnya untuk kantor.

Studio itu tertutup untuk umum. Namun, warga bisa melihat proses syuting dari celah-celah pagar. Kami tidak diizinkan masuk tanpa alasan yang jelas. ”Di sini memang tertutup,” kata Dharani setelah menemui petugas satpam kompleks itu.

Tidak jauh dari AVM Studios, terlihat Rumah Sakit Bharani. Bangunannya cukup tua dan sederhana. Menurut Dharani, rumah sakit itu dulu juga studio film. Lantaran pemilik studio sudah menemukan tempat yang baru, studio tersebut lantas difungsikan sebagai rumah sakit kecil.

Setelah berputar-putar keliling Kollywood, kami akhirnya menemukan aktivitas syuting di Malligai Avenue, Annammal Nagar, Nerkudram, Chennai. Saat itu sedang dilakukan pengambilan gambar di sebuah rumah kecil yang di belakangnya terdapat sumur timba.

Para pekerja film itu tampak sibuk. Ada yang menyiapkan reflektor, generator listrik, hingga properti yang diperlukan dalam adegan tersebut. Alat-alat yang digunakan cukup sederhana, lebih baik peralatan produksi film atau sinetron di Indonesia. Mereka hanya menggunakan satu kamera dan televisi kecil untuk monitor.

Saking sederhananya, kabel-kabel yang disambungkan ke stop kontak tidak menggunakan peralatan memadai. Agar tidak goyah saat mencolokkan ke dalam stop kontak, kru menggunakan ranting pohon. Itulah pengambilan gambar serial televisi Mundhanai Mudichu.

Meski dibuat dengan peralatan sederhana, serial yang tayang sejak 26 April 2010 tersebut termasuk laris manis. Setidaknya, hingga saat syuting itu sudah diproduksi 860 episode. Pemeran utama film tersebut, Durga, mampu memikat penonton hingga serialnya bertahan selama tiga tahun. ”Penonton di sini suka pemain yang natural. Tanpa banyak make-up,” tambah Dharani.

Dari syuting Mundhanai Mudichu, kami bergeser ke bangunan samping yang cukup besar yang terdiri atas beberapa lantai. Lantai dasar di-setting sedemikian rupa sehingga menyerupai rumah sakit. Siang itu, ada syuting serial Devathai, sinetron yang tayang siang dan baru berjalan 53 episode. Sama dengan sebelumnya, peralatan yang digunakan sederhana.

Kebanyakan film Kollywood dibuat di sekitar Chennai. Jarang yang mengambil lokasi di luar kota tersebut. Hal itu, salah satunya, ditujukan untuk menyiasati biaya produksi agar tidak membengkak. Mereka juga sering memanfaatkan rumah-rumah penduduk yang dianggap sesuai dengan lokasi yang diinginkan skenario film. Karena itu, warga pun ikut kecipratan rezeki dari komoditas sinematografi tersebut.

Bagaimana dengan bintang-bintang film Kollywood? Bintang-bintang film Kollywood berbeda dengan bintang-bintang Bollywood. Tidak akan ada nama Preity Zinta, Kareena Kapoor, Kajol, atau Shah Rukh Khan. Yang ada di Kollywood adalah Rajinikanth, Kamal Hassan, atau Ilaya Thalapahy Vijay. Film yang diproduksi juga berbeda dari segi bahasa. Bollywood berbahasa Hindi, sedangkan Kollywood berbahasa Tamil.

Kemampuan Kollywood dalam memproduksi film memang layak diacungi jempol. Sampai September ini, sudah ada 105 judul film yang siap dirilis. Jika dirata-rata, berarti dalam sebulan ada 11 film baru yang dibuat di Tamil Nadu. Bukan tidak mungkin hingga akhir tahun bisa menyentuh 130-an film.

Sementara itu, di Mumbai yang menjadi pusat Bollywood, gaung film-film baru kurang gereget. Mungkin ada aturan yang berbeda jika dibanding Chennai seperti soal pemasangan poster film. Karena itu, jalan-jalan Mumbai tidak seramai Chennai dalam promosi film-film baru.

Meski demikian, tidak berarti industri film Bollywood lesu. Hingga September ini, nama-nama terkenal seperti Shah Rukh Khan, Deepika Padukone, Amitabh Bachchan, Priyanka Chopra, hingga Rani Mukerji main di 89 film.

Selain produksi film yang besar, Bollywood menjadi daya tarik wisata bagi turis-turis asing. Banyak travel agent yang menjadikannya paket wisata, meski tergolong cukup mahal. Untuk setengah hari, misalnya, paket yang ditawarkan Rp 1,2 juta-Rp 1,5 juta. Turis akan diajak melihat studio, pembuatan film, hingga mengunjungi atau lebih tepatnya melewati rumah bintang-bintang Bollywood.

Kalau rumah sang bintang dikunci rapat, wisatawan hanya bisa melihat dari luar rumah. Tapi, kalau ternyata terlihat pemilik rumah, si turis boleh jadi beruntung bisa berfoto bareng sang bintang. ”Ini rumah Salman Khan, salah satu artis top di sini. Rumahnya sedang direnovasi,” ujar Raja, tour guide kami. (*/c5/ari) 

Suasana syuting serial Mundhanai Mudichu

Leave a reply: