Geliat India Membangun Infrastruktur Kota

Mengunjungi Dharavi, Kawasan di Antara Gedung Pencakar Langit Mumbai

Meski Kumuh, Harga Tanah Rp 37 Juta Per Meter Persegi 

Mumbai menyimpan aib kemiskinan. Di antara gedung pencakar langit kota metropolitan itu, ada daerah kumuh yang bernama Dharavi. Meski kawasan kumuh, harga rumah di sana sungguh tidak lumrah.

SEBAGAI pusat bisnis, Mumbai menawarkan banyak hal yang menyenangkan jika dibanding kota-kota lain di India. Memiliki banyak mal, kuliner yang beragam, bangunan indah, hingga fasilitas transportasi yang lengkap. Belum lagi industri film Bollywood yang pamornya sudah mendunia.

Namun, siapa sangka, salah satu kota tersibuk di India itu menyimpan kantong kemiskinan yang parah. Skyline indah Kota Mumbai ”tercoreng” oleh keberadaan wilayah yang mereka sebut slum area itu. Dari 486 kilometer persegi wilayah Mumbai, sekitar 3 kilometer persegi adalah kawasan Dharavi.

Cukup kecil memang jika dikomparasikan dengan total luas wilayah Mumbai. Meski kecil, daerah tersebut berpenghuni sangat padat. Menurut data terbaru (2012) kependudukan India, penduduknya mencapai 879 ribu jiwa. Bandingkan dengan Surabaya yang memiliki luas 33,3 kilometer persegi dengan penduduk 3,1 juta orang.

Terbayang betapa sempitnya ruang gerak di Dharavi. Saking padatnya, pada 2006, United Nations Development Programme (UNDP) menyebut satu toilet di Dharavi digunakan hingga 1.440 orang. Sambungan air minum di setiap rumah penduduk bagaikan tidak berguna.

Padatnya penduduk dan sempitnya wilayah Dharavi membuat pemerintah setempat harus menyiasati agar kawasan itu mampu menampung jumlah warga yang overload. Yakni, membangun rumah-rumah susun yang berblok-blok.

Bangunan-bangunan yang menjulang itu umumnya sudah tampak kusam. Bahkan cenderung kumuh. Jemuran pakaian menghiasi jendela-jendela rumah susun. Lumut hijau menempel pekat di tembok-tembok. Belum lagi pemandangan di lantai dasar yang tampak bak pasar tiban. Meski kumuh, slum area tersebut menjadi favorit untuk ditinggali karena harganya yang tergolong ”murah”.

Raja, tour guide yang mengantar Jawa Pos keliling Mumbai, menceritakan bahwa harga tanah di India sudah sulit ditandingi. Per meter dibanderol sekitar Rp 37 juta. Tapi, itu belum seberapa jika dibanding harga tanah di Mumbai yang mencapai Rp 500 juta per meter persegi! Padahal, penghasilan masyarakat Dharavi golongan menengah ke bawah yang umumnya menjadi sopir taksi hanya Rp 1,850 juta per bulan.

Di rumah susun, mereka menyewa sebuah kamar dengan harga rata-rata Rp 300 ribu-Rp 400 ribu per malam. Mahal atau murahnya harga sewa kamar di rumah susun bergantung letak lantai kamar tersebut. Semakin tinggi kamar yang disewa, harga semakin murah.

”Sebenarnya pemerintah memberi warga rumah susun. Tapi, kebanyakan dijual lagi atau disewakan,” kata Raja.

Salah satu sudut Dharavi

Magicbrick, salah seorang agen properti di Mumbai, mengiklankan harga rumah dengan luas 41,8 meter persegi yang dihargai Rp 500 ribu per meter. Tingginya harga hunian membuat mereka yang tidak punya banyak uang memilih melakukan berbagai aktivitas di jalan. Misalnya, tidur, makan, hingga urusan mandi, cuci, dan kakus (MCK). Turis yang melintas bisa melihat semua itu dengan jelas. Namun, jangan sekali-sekali berhenti cukup lama untuk mengambil foto karena mereka akan mengejar dan meminta uang.

Kendati demikian, Dharavi merupakan kota yang memiliki perputaran uang yang sangat tinggi. Di luar kekumuhannya, kawasan itu dikenal sebagai sentra proses daur ulang barang bekas, pabrik garmen, kerajinan bambu, manufaktur kulit, pengolahan baja, hingga aneka makanan khas Indonesia. Kabarnya, pendapatan bersih kota tersebut mencapai USD 650 juta per tahun.

Lantas, mengapa harga hunian di Dharavi begitu tinggi? Raja tidak bisa menjawab dengan pasti. Dia hanya menyatakan bahwa harga properti di Mumbai sangat tinggi. Dari informasi yang diperoleh Jawa Pos, tingginya permintaan menjadi salah satu penyebab meroketnya harga properti.

Pemerintah sebenarnya tidak berpangku tangan atas kondisi di Dharavi. Raja mengungkapkan, ada banyak rencana untuk memperbaiki kondisi di Dharavi. Ketika berkunjung ke sana tiga pekan lalu, Jawa Pos sempat menjadi saksi dimulainya kembali pembangunan gedung di daerah tersebut. Saat itu bangunan masih berupa kerangka dan dikerjakan lagi setelah mangkrak beberapa saat.

”Ini proyek The Dharavi Redevelopment Project (DRP). Tetapi, entah kenapa sampai sekarang belum terealisasi,” kata Raja, orang India berkulit albino tersebut.

Bukan hanya itu, pada 2007 ada anak perusahaan Dubai World yang berencana memperbaiki kawasan kumuh tersebut. Namun, hingga kini rencana itu tidak kunjung terwujud.

Tidaklah sulit bagi turis asing yang berniat melihat area yang menghiasi film Slumdog Millionaire itu. ”Jalan dan infrastruktur kota cukup mendukung. Alat transportasi juga gampang. Jadi, silakan menikmati problem di kota metropolitan seperti Mumbai,” tegas Raja. (*/c5/ari) 

Pembangunan di wilayah Dharavi. Foto ini diambil pada September 2013

Leave a reply: