Review ACER V5-552G, Gaming Notebook

ACER memperkenalkan notebook barunya yang ditujukan pada mainstream gamers, yakni seri Aspire V5-552G. Battlefield 4 menjadi tolak ukur bagi Acer untuk bisa menjalankan berbagai game berat dengan baik. Itulah kenapa, perusahaan asal Taiwan itu mengambil tagline’’if it can command the Battlefield, imagine what else it can do’’.

Acer yakin, notebooknya bisa menjalankan berbagai game berat dengan baik. Untuk meyakinkan pembeli, Acer memberikan game Battlefield 4 dengan cuma-cuma. Pembeli tinggal meredeem kode ke situs AMD dan mendownloadnya melalui Origin milik EA. Siapkan internet kecepatan tinggi karena filenya 29 GB hehehe.. atau bisa copy dari file teman.

Opsi selain Battlefield 4, Acer memberikan pilihan game gratis yakni Devil May Cry, atau Sonic: All Stars Racing Transformed. Disamping itu, ada beberapa hal yang diunggulkan oleh Acer. Mulai dari layar lebar 15,6 inch, kartu grafis dengan RAM 2 GB dan 384 bit, desain slim yang cantik, tidak mudah panas, dan berat yang ’’hanya’’ 2 kg.

Saya berkesempatan untuk mencoba produk ini. Uji coba saya lakukan menggunakan Windows 8.1 64 bit sebagai sistem operasi. Semua dijalankan dengan normal alias sesuai dengan standar produk saat membeli. Tanpa overclock sama sekali.

SPESIFIKASI
NOTEBOOK ini mempunyai spesifikasi yang cukup tinggi. Mencoba mengawinkan APU AMD A10-5757M dengan Radeon HD 8750M. Untuk RAM, secara default Acer memberikan satu keping 4 GB saja. Kalau butuh lebih, bisa memasang RAM DDR3 lainnya karena ada satu slot kosong. Untuk RAM, mendukung dual channel dan bisa diupgrade hingga 12 Gb.
[spoiler title=”Spesifikasi”]

Processor APU AMD Elite Quad Core A10-5757M
Kartu grafis Radeon HD 8750M dengan 2 GB VRAM
Memory 4 GB DDR3, upgradeable sampai 12 GB (tersedia dua slot)
Hard Disk 1TB 2,5 inci
Layar 15,6 inch
Speaker Empat built-in stereo speaker dengan Dolby Digital Home Theatre
Dimensi 381,6×255,95×20,75 mm
Berat 2 kg

[/spoiler]

DESAIN
PANDANGAN ini benar-benar subyektif. Ada yang saya suka dan tentu, ada yang kurang sreg. Kita mulai dari sisi suka dulu. Desain slim notebook ini benar-benar menarik. Bongsor memang kalau sudah terbiasa menggunakan notebook berukuran 11 inch atau 13 inch. Meski demikian, saya tetap merasa nyaman menggunakannya. Apalagi, Acer mampu membuat si Bongsor ini menjadi tidak terlalu berat, hanya 2 kg.

Banyak notebook dengan ukuran yang lebih kecil, tetapi memiliki berat lebih dari Acer V5-552G ini. Macbook Pro 13 inch misalnya, size kecil tetapi beratnya juga sama-sama dikisaran 2kg. Asus punya X552CL dengan size layar yang sama yakni 15,6 inch, namun cukup berat karena mencapai 2,4kg.

Balutan casingnya yang terbuat dari plastik dan aluminium juga cantik. Tidak terkesan murahan sehingga membawa prestige sendiri bagi para penggunanya. Sayangnya, bahan glosinya terlalu gampang meninggalkan bekas jari. Jadi, harus sering-sering dibersihkan supaya tampilan elegannya tetap terjaga.

Disamping itu, yang kurang menarik adalah peletakan berbagai additional port. Ada tiga lokasi yang menjadi tempat untuk menyambungkan aksesori atau tambahan lain di notebook ini. Pertama, sisi kanan yang berisikan port USB 2.0, SD Card, dan headset.

Sedangkan sisi kiri digunakan untuk port USB 2.0, dan tombol power. Sisi belakang adalah yang paling banyak mendapatkan port tambahan. Sebut saja lubang untuk mencolokkan kabel ke soket Gigabit Ethernet, lantas ada satu slot USB 3.0, mini-display port, HDMI, kensington lock, dan power.

Saya tidak tahu apa pertimbangan tim Acer meletakkan banyak colokan di belakang. Padahal, sisi kiri dan kanan masih banyak yang kosong. Hal itu membuat saya sebagai pengguna merasa kurang lincah untuk memanfaatkan port tersebut. Apalagi, kalau mau menggunakan USB 3.0.

Oh iya, Acer tidak menyediakan port VGA. Untuk menyambungkan ke layar yang lebih besar, bisa memanfaatkan sambungan HDMI. Tetapi, kalau masih membutuhkan VGA, Acer memberi solusi. Dalam paket penjualannya disediakan sebuah converter firewire ke VGA.

HARD DISK
Meski revolutions per minute atau RPM Hard disk Western Digital notebook ini belum mencapai 7200, tetapi nikmat mana yang engkau dustakan jika kapasitasnya mencapai 1,000 Gb atau 1 Tb?. Transfer data mungkin bakal berjalan lebih lambat, tetapi sebanding dengan kompensasi besarnya ruang penyimpanan yang diberikan. Jangan lupa juga, ada soket USB 3 yang membantu pemindahan data aar lebih cepat.

SPEAKER
SAATNYA memanjakan telinga. Terima kasih untuk 4 speaker yang disediakan oleh Acer dalam notebook ini. Audio yang keluar jelas lebih baik ketimbang notebook dengan dua speaker pada umumnya. Suaranya cukup kencang dan empuk. Jadi, enak untuk menjadi pendamping main games meski tanpamengenakan headset.

KEYBOARD
Luasnya layar membuat komposisi keyboard di notebook ini menyesuaikan luasnya bidang. Tentu, menjadi tidak lucu kalau tombol keyboard dibuat menjadi ukuran lebih besar daripada umumnya. Oleh sebab itu, Acer memberikan tombol numeric pad tepat di ujung kanan.

Sebenarnya itu sangat membantu, tetapi saya sendiri kurang terbiasa. Jadinya, saat jari harusnya menekan tombol enter atau backspace, masih suka menekan tombol numeric pad. Sisanya, tidak ada yang berbeda dengan komposisi keyboard pada notebook umumnya. Ada beberapa tombol yang menjadi pengatur multimedia, wifi, mengatur kecerahan layar, hingga multidisplay.

Oh iya, untuk touchpad, Acer tidak meletakkan tepat ditengah bidang keyboard seluruhnya. Posisinya lebih condong di kiri, di tengah keyboard jika tidak menyertakan numeric pad.Bagiku, tombol-tombol ini membantu banyak hal karena memang butuh hehehe.

LAYAR
LAYAR ukuran ini bisa jadi bukan favorit pengguna notebook di tanah air. Kebanyakan masih suka layar 11 inch atau 13 inch. Pilihan Acer untuk menggunakan layar ukuran 15,6 inch boleh dikatakan tepat. Bermain game tentu tidak nikmat kalau menggunakan layar di bawahnya. Apalagi, kalau main game berdua.

Resolusi layar secara default adalah 1366×768 pixel. Gambar secara sempurna hanya bisa dinikmati dari depan. Kalau sudah agak samping kiri atau kanan, kualitasnya menurun. Untuk ketajaman warna juga masih rata-rata notebook. Oke untuk bermain game, tapi tidak editing foto secara serius.

BATERAI
DIPERKENALKAN sebagai gaming notebook. Manajemen baterai Acer V5-552G dipertaruhkan. Apalagi, Bos Acer Indonesia mengatakan kalau notebook ini disasar pada pengguna yang mobile. Tentu akan tidak menyenangkan kalau saat notebook ini dibawa nongkron, main game bareng, tapi tidak lama.

Saya melakukan tes secara manual. Seperti menjalankan game, menonton video kualitas bluray, dan untuk penggunaan acak mulai mengetik, mendengarkan lagu, hingga browsing. Semuanya dimulai dari baterai terisi penuh, hingga V5-552G mati dengan sendirinya.

Hasilnya lumayan, untuk menonton film terus menerus, notebook ini akan beralih ke mode sleep saat baterai tinggal 5 persen. Cukup untuk menonton hingga 2 film layar lebar karena baterainya tahan hingga 3 jam.

Ketahanan baterai makin terasa ketika notebook ini saya gunakan untuk bekerja. Mengetik, browsing, dan sesekali mengedit foto menggunakan Photoshop CC. Dalam penggunaan normal yang kadang saya tinggal sehingga notebook otomatis masuk mode sleep, notebook ini masih tahan lebih dari 4 jam.

Bagaimana dengan bermain game? Untuk game yang tergolong ringan, bisa menyentuh 3 jam. Sedangkan game-game berat cukup menguras tenaga dan baterai lebih cepat habis.

PERHATIAN
DALAM mode baterai, tidak semua game bisa dijalankan dengan baik. Beberapa game membutuhkan asupan daya dari listrik untuk menghasilkan hasil terbaik.

KINERJA
Metode
Pengujian saya lakukan dengan menggunakan beberapa software. Yakni, pengukur benchmark seperti 3DMark, dan Furmark. Pengukuran menggunakan preset yang ada dan tidak saya ubah kecuali resolusi. Hanya satu resolusi yang saya uji sepanjang melakukan tes (termasuk game) yakni 1366×768.

Sedangkan untuk game, saya menggunakan Fraps untuk mengukur besaran minimal, maksimal, dan rata-rata frame per second (fps) atau kemampuang membaca gambar per detik. Namun, ada juga yang menggunakan pengukur benchmark internal game seperti Tomb Raider.

Saat menguji coba, tidak ada aplikasi lain yang berjalan kecuali game dan Fraps. Untuk antivirus, yang saya gunakan adalah BitDefender dan mendukung mode game. Setiap game yang saya coba selalu diusahakan berada pada lokasi yang sama sehingga pengukurannya bisa mendekati sama.

Namun, kadang kondisi itu tidak bisa sama betul. Apalagi, untuk game yang tidak mempunyai pengukuran benchmark internal. Seperti Need for Speed: RIVALS misalnya. Meski berada di jalanan yang sama, bertambah komplek atau ringannya frame bisa terjadi karena bertambahnya mobil umum yang lewat.

Sedangkan untuk driver, saya menggunakan Catalyst yang terbaru (terkadang versi Beta). Begitu juga dengan software pengukur benchmark yang saya gunakan.

DISCLAIMER
PENGUJIAN aplikasi maupun games saya lakukan sendiri dengan spesifikasi komponen yang sudah saya tuliskan di atas. Hasil tentu saja sangat mungkin berbeda. Apalagi, kalau komponen atau software yang digunakan berbeda. Untuk hasil terbaik, pastikan driver terbaru sudah terinstall.

3DMark
PENGUKURAN menggunakan aplikasi ini menunjukkan hasil yang lumayan. Setidaknya, lebih tinggi dari nilai rata-rata ultrabook atau notebook meski tetap kalah telak dengan notebook gaming seharga belasan atau puluhan juta. Sebab, skor Firestrike 1.1 Acer V5-552G ini finish di angka 991.

3DMark menetapkan nilai rata-rata untuk notebook adalah 706. Itulah kenapa, saya katakan masih diatas notebook pada umumnya. Angka yang dimiliki notebook ini juga lebih tinggi dari PC kantoran yang umumnya ada dikisaran nilai 520. Sedangkan acuan utnuk notebook gaming adalah nilai 3,364.

3DMark 11
HASIL yang sama juga ditunjukkan saat menguji notebook ini dengan 3GMark11. Fungsinya, untuk mengukur kemampuan notebook dalam menjalankan game dengan DirectX 11. Beberapa file yang digunakan untuk demo sempat membuat notebook ini kewalahan.

Untuk settingan saat uji coba, saya menggunakan resolusi layar sesuai dengan default Acer V5-552G. Yakni, 1366×768 secara full screen. Tes dilakukan dua kali yakni performance level yang lebih berat, serta entry level untuk ringannya. Silakan bandingkan dengan hasil notebook anda saat ini.

[spoiler intro=”Benchmark”]

[/spoiler]
Furmark
UNTUK ’’menyiksa’’ kemampuan grafis Acer V5-552G ini saya hanya menggunakan dua kali pengujian dengan sedikit perbedaan. Yang pertama, mengaktifkan fitur antialiasing. Sedangkan pengujian selanjutnya, tanpa mengaktifkan fitur tersebut. Untuk resolusi layar, sama-sama menggunakan 1366×768 secara full screen.

Hasilnya, antialiasing membuat kartu grafis notebook ini kepayahan. Nilai rata-ratanya hanya 4 gambar per detik. Namun, angka yang didapat melonjak lebih dari 100 persen ketika antialiasing dinonaktifkan. Pengolahan grafis menghasilkan angka yang lebih baik, yakni 10 gambar per detik.

[spoiler intro=”Benchmark”]

[/spoiler]
GAMES
Battlefield 4

INI adalah game yang digembar-gemborkan bakal berjalan smooth menggunakan Acer V5-552G. Dan ya… entah apa yang mereka lakukan pada notebook ini. Sebab, janji itu memang terbukti. Saya mencoba memainkan game ini dengan setting grafis medium dan ultra, keduanya berhasil berjalan lancar.

Setting Medium menurutku yang terbaik. Karena kartu grafis mampu mengirimkan gambar sebanyak 37 per detik. Itu cukup menghasilkan gambar yang mulus, apalagi untuk notebook. Sementara, dalam settingan Ultra, pengiriman gambar jeblok menjadi 14 per detik.

Meski demikian, dari beberapa level yang saya coba tetap tidak ada kendala dalam memainkannya. Masih berjalan dengan lancar meski terkadang terasa berat. Tetapi, itu tidak terlalu signifikan. Dengan catatan, game dimainkan tidak dalam mode baterai ya untuk settingan Ultra.

[spoiler intro=”Benchmark”]

[/spoiler]

 

FIFA 14

DARI beberapa game yang saya coba di notebook ini, permainan sepak bola ini paling nyaman dijalankan dalam berbagai settingan grafis. Setting medium oke, main dengan kualitas grafis tertinggi juga tidak ada lag. Makin menyenangkan karena bermain dalam mode baterai tidak membuat game lemot.

Itu dikarenakan pengiriman gambar per detik yang cukup detik. Seperti diketahui, beberapa game masih bisa dijalankan dengan lancar meski fpsnya hanya menunjukkan angka 20. Nah, di FIFA 14 ini mampu mengirim gambar sampai 60 frame per detik.

Lihat saja hasil pengukuran Fraps di bawah ini. Bermain dengan mencolokkan laptop ke listrik atau baterai tetap isa menghasilkan pengiriman gambar sebanyak 63 per detik. Begitu juga dengan nilai rata-rata, hanya berbeda sedikit. Kalu pengukuran saya, hanya berbeda 2 gambar per detik saja.

[spoiler intro=”Benchmark”]

[/spoiler]

 

Tomb Raider

SAAT game ini keluar, AMD dengan bangga memperkenalkan fitur TreesFX. Sebuah cara ajaib yang mampu membuat rambut Lara Croft menjadi semakin nyata karena bisa bergerak bak gadis iklan shampoo. Fitur itu dengan mudah dijalankan saat memainkannya di desktop, tapi tidak di notebook.

Hanya beberapa notebook dengan kartu grafis tinggi yang mampu menjalankan TreesFX. Nah, di Acer V5-552G fitur itu bisa diaktifkan saat bermain. Namun, tentu saja tidak untuk semua setting grafis. Berdasar benchmark internal Tomb Raider, lebih baik TreesFX dijalankan dengan setting normal atau low.

[spoiler intro=”Benchmark”]

[/spoiler]

 

Need for Speed: RIVALS

KEBUT-kebutan menggunakan notebook Acer V5-552G kurang bisa maksimal. Sebab, produk terbaru Acer ini ngos-ngosan kalau diajak berkendara dengan setting tertinggi alias ultra. Nilai rata-rata frame per secondnya hanya ada di kisaran angka 16.

Memang, mobil masih bisa berjalan dengan lancar. Namun, terasa berat. Agak mendingan kalau kualitas grafis game besutan Electronic Arts ini diturunkan ke medium. Mobil terasa lebih ringan dan siap untuk mengikuti beberapa kompetisi. Sebab, gambar yang dihasilkan mampu menyentuh angka 20 per detik.

Oh iya, naik turunnya frame per second di game ini sangat cepat. Biasanya dipengaruhi komposisi jalanan yang dilewati. Apakah banyak mobil, detail seperti rumah, pohon, hingga pagar. Saya mencoba beberapa kali pengujian, rata-rata mendapatkan 20 gambar per detik untuk setting medium.

Ada catatan yang harus diperhatikan kalau menginstal game ini di notebook. Lebih baik, jangan menjalankan game ini dalam mode bateri. Sebab, mobil sekencang Lamborgini atau Ferrari bakal selemot siput hehehe. Penurunan fps dalam mode baterai dan listrik bisa mencapai 6 gambar per detik.

[spoiler intro=”Benchmark”]

[/spoiler]

 

KESIMPULAN
BANYAK notebook yang memiliki spesifikasi kartu grafis tinggi. Namun, sering kali harganya ikut melambung tinggi. Apa yang Acer coba tawarkan dengan notebook seri game ini patut dipertimbangkan. Meski demikian, tetap harus diingat dengan jargon ada harga ada rupa.

Acer melempar notebook ini dikisaran Rp 7 jutaan. Sedangkan merk lain juga punya edisi game dengan harga yang bervariatif dengan nilai lebih tinggi. Jika tidak terlalu mempermasalahkan harus bermain game dengan setting grafis tertinggi, tentu saja membeli produk ini bisa jadi pilihan.

Toh, beberapa game juga tetap bisa dijalankan dengan baik pada setting tertinggi. Seperti FIFA 14 atau Battlefield meski dengan mencolokkan notebook ini ke listrik. Kalau user memainkan game yang memiliki spesifikasi sama satau lebih rendah dari FIFA 14 dan Battlefield, bisa dikatakan lancar.

Nilai lebih lain adalah layar berukuran 15,6 inch. Cocok untuk bermain game dan menonton film. Apalagi, desain slim dan bobot notebook yang tergolong ringan di kelas gaming notebook dan layar sebesar itu. Jika ada kesempatan ke dealer resmi Acer, jangan ragu untuk mencoba.

35 comments On Review ACER V5-552G, Gaming Notebook

Leave a reply: