Filipina di Bawah Kepemimpinan Duterte “The Punisher”

0

Perempuan Kini Merasa Lebih Aman (Edisi-2)

 
Laporan DHIMAS GINANJAR dari Manila 

BAGI turis, berada di Filipina, khususnya Manila, bisa jadi tidak pernah merasa seaman saat ini. Efek terpilihnya Presiden Rodrigo Duterte yang dikenal tegas terhadap pelaku kriminal membuat tindak kejahatan seakan tiarap. Apalagi meski belum genap sebulan dia memimpin, sudah banyak bukti yang diberikan

Selama sepekan di Manila, Jawa Pos mencoba berbagai moda transportasi. Mulai Uber, taksi konvensional, metro rail transit (MRT), light rail transit (LRT), jeepney yang di Indonesia adalah mikrolet, sampai tricycle atau becak bermotor. Termasuk berjalan pada malam di beberapa sudut kota.

Semua perjalanan itu nyaman. Imbauan hotel agar turis tidak sembarangan memilih taksi karena ada oknum yang curang juga belum ditemukan. Warga lebih merasa aman karena pelaku yang tertangkap tak akan diberi ampun.

Kalau dahulu warga waswas ketika bepergian, sekarang pelaku kriminal yang waswas akan ditangkap. Karena itulah, tanpa ragu, Jam Torres, 28, memilih Duterte pada pemilu lalu. “Saya merasa lebih aman saat siang maupun malam,” kata Jam.

Perempuan chubby itu bekerja di salah satu department store di Manila. Dia harus pulang larut saat jam beroperasi mal telah usai. Jam memang bukan tipikal perempuan yang suka khawatir saat pulang malam. Namun, dia berharap pemerintahan Duterte membuat perempuan semakin aman.

Sikap tegas pemerintah yang terus termuat dalam berbagai media Filipina juga menumbuhkan optimisme perempuan lainnya. Paula Bianca, 21, karyawan sebuah perusahaan customer service di kawasan Ayala Avenue, menyebut sudah saatnya perempuan diberi rasa aman lebih.

“Di Manila, saya pakai pakaian biasa saja banyak laki-laki yang menggoda. Itu sangat tidak nyaman,” terangnya. Dia ingin pemerintahan baru bisa lebih tegas terhadap hal-hal seperti itu. Agar pelecehan seksual yang menjadi pangkal pemerkosaan tidak terjadi lagi.

Malah Bianca menyebut bahwa hukuman keras dan tegas seharusnya tidak hanya diberikan kepada pengedar narkoba. Dia juga jengah dengan banyaknya aksi kriminal seperti pencurian maupun perampokan yang pelakunya hanya dihukum ringan. “Kalau hukumannya ringan, bagaimana bisa jera? Filipina harus jadi lebih baik,” tuturnya.

Dia yang saat diwawancarai sedang bersama empat temannya menyatakan bahwa pemerintahan Duterte tidak perlu memedulikan omongan yang menyebut polanya kejam. Bagi dia, sikap tegas Duterte terhadap pelaku kriminal bukan seperti diktator. Sebab, cara itu justru memberikan rasa aman kepada warga.

“Saat ini kami merasa lebih aman. Semoga rasa aman itu bisa berlangsung lama,” harapnya yang disetujui teman-temannya.

Salah seorang manajer restoran cepat saji merek lokal di Kota Makati, Olive Luna, 25, juga berharap pemerintahan baru tidak mengendurkan semangatnya dalam memerangi kriminalitas. Seperti halnya Bianca, dia ingin pelaku tindak kejahatan lain juga dihukum tegas. Apalagi yang bersentuhan dengan kaum hawa.

“Saya mendukung sepenuhnya kebijakan pemerintah,” katanya. Lebih lanjut perempuan berambut sebahu itu menjelaskan bahwa dirinya juga mendukung hukuman mati terhadap bandar narkoba. Sebab, saat ini kondisinya sudah darurat. Olive tidak mengkhawatirkan citra Filipina menjadi buruk kalau memberikan hukuman mati kepada pengedar narkoba.

Wajar, warga Manila menaruh harapan besar kepada Duterte. Majalah Time yang mengutip survei Bank Dunia pernah menulis bahwa kejahatan yang berujung pembunuhan di Filipina pernah berada di titik nadir. Pada 2013, kasus pembunuhan di negara itu merupakan yang tertinggi di Asia dan berada pada peringkat ke-11 dunia.

Selain itu, Filipina punya masalah dengan senjata api ilegal yang jumlahnya diperkirakan 500 ribu unit. Sektor pariwisata yang seharusnya memiliki posisi penting dalam menarik devisa menjadi tidak optimal. “Tidak apa, hukuman berat bisa mendisiplinkan warga supaya tidak melakukan hal itu,” kata Olive.

Dukungan yang disampaikan warga Manila kepada Jawa Pos dalam sepekan ini bukanlah omong kosong. Survei Pulse Asia yang dirilis pada Rabu (20/7) menunjukkan kepercayaan yang tinggi kepada Duterte. Yakni, 91 persen dari 1.200 responden yang datanya diambil seminggu setelah Duterte dilantik.

Berdasar survei itu, 8 persen warga belum bisa memutuskan apakah mendukung kebijakan presiden atau tidak. Sementara itu, yang berseberangan dengan The Punisher hanya 0,2 persen. Warga berharap jargon Better, Safer and Healthier (lebih baik, lebih aman, dan lebih sehat) terwujud.

Soal keamanan, survei tersebut mendapati 48 persen warga juga meminta angka kriminalitas di Filipina bisa ditekan. Kalau itu terwujud, banyak hal positif yang akan terangkat. Salah satunya soal pariwisata. “Jika Filipina lebih aman, saya yakin wisatawan akan datang terus ke sini,” kata Potenciano V. Laurilla, sopir taksi di kawasan wisata Intramuros.

Duterte sendiri menegaskan tidak akan mengubah gaya kepemimpinannya meski nanti dianggap melanggar hak asasi manusia (HAM). Saat berbicara di sekolah hukum San Beda College, dia menyebut cara yang dilakukannya merupakan bentuk pelayanan kepada negara. Terutama dalam melindungi warga dari bahaya narkoba.

Mantan wali kota Davao itu juga tidak mempermasalahkan jika gaya kepemimpinannya membuat dirinya disamakan dengan Idi Amin, pemimpin kontroversial Uganda yang secara brutal membunuh lawan-lawannya demi mempertahankan kekuasaan. Duterte menegaskan, sikap kerasnya hanya untuk para pelaku kriminal.

“Saya tahu, mungkin saat berhenti (jadi presiden) nanti, saya punya reputasi seperti Idi Amin,” katanya, Senin (18/7). Dalam 20 hari sejak Duterte dilantik, Philippine National Police (PNP) mencatat ada 207 bandar narkoba maupun pengguna yang terbunuh karena operasi bersih-bersih. Selain itu, 2.789 bandar dan afiliasinya telah ditangkap. Yang bikin geleng-geleng kepala, 114.833 pelaku menyerahkan diri daripada berurusan dengan pemerintah. (dim/c6/sof) 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *