Pokemon Go Tidak Mengancam Rahasia Negara

0

Belum Saatnya John Connor Selamatkan Manusia

Catatan: Opini ini sudah dimuat di harian Jawa Pos edisi Senin, 25 Juli 2016.

SIAPA di antara pembaca Jawa Pos yang mengikuti film Terminator? Kalau suka film itu, Anda pasti ingat dengan Skynet. Program canggih dengan kecerdasan buatan yang diciptakan oleh Cyberdyne dan mulai online pada 2004.

Skynet kemudian jadi berbahaya. Sebab, pada 2018, program yang awalnya untuk sistem pertahanan militer Amerika Serikat itu justru memicu perang nuklir dan membumihanguskan manusia.

Serius, dalam beberapa minggu ini, rasanya film yang diperankan Arnold Schwarzenegger itu menjadi kenyataan. Linimasa TwitterFacebookBlackBerry Messenger, sampai WhatsApp terus membicarakannya. Skynet terasa benar-benar ada.

Tapi, ”Skynet” yang ditakuti itu hadir dalam bentuk imut: monster di Pokemon Go. Senasib dengan Skynet, Pokemon yang diciptakan untuk membantu (baca: senang-senang-senang) eh sekarang malah dikhawatirkan membocorkan rahasia negara.

Permainan yang membuat pemainnya seolah-olah melihat dan menangkap monster itu sebenarnya belum resmi di Indonesia. Tapi, hebohnya subhanallah.

Banyak yang menyambut positif. Namun, ada juga yang menentang ala John Connor, sang penyelamat di film Terminator. Mulai argumen yang masuk akal sampai konyol seperti arti kata Pokemon dalam bahasa Syriac, yakni Aku Yahudi.

Saking banyaknya perdebatan, beneran deh, kalau ada pembangkit listrik tenaga debat Pokemon Go (PLTDPg), Presiden Jokowi tidak perlu khawatir atas masa depan program pembangkit listrik 35 ribu mw. Pasokan energinya melimpah. Hehehe.

Selamat datang di era big data, zaman ketika data menjadi raja. Jika Pokemon Go dianggap sebagai mata-mata, lantas kita menyebut GoogleFacebook, bahkan layanan transportasi/ojek online sebagai apa?

Mereka lebih dulu mengoleksi data. Tapi, entah karena informasinya tidak sederas Pokemon Go atau aplikasinya dianggap bermanfaat, jadinya semua cuek.

Di era big data, ”sah” untuk mengumpulkan berbagai informasi yang nantinya digunakan untuk keperluan lain. Jika tidak mau, ya balik ke ponsel tanpa internet saja. Google, misalnya, mengumpulkan data atas perilaku yang tertarik terh­adap sesuatu saat browsing. Lantas, data itu digunakan untuk menampilkan iklan yang tepat.

Jadi, jangan kaget, ketika membuka suatu website yang mendukung iklan dari Google, muncul barang favorit Anda. Atau, tiba-tiba muncul iklan website porno. Jangan-jangan sebelumnya Anda surfing hal-hal erotis. Langkah yang sama konon dilakukan transportasi online.

Mereka mengumpulkan data diri lengkap dengan rute yang biasa kita pakai. Server mereka bisa memetakan, misalnya, Jalan Mawar ketika pukul 13.00 sampai 16.00 lebih banyak dilewati perempuan muda.

Data itu lantas ditawarkan kepada biro iklan atau perusahaan. Dengan iming-iming, produk kecantikannya cocok ditampilkan di jalan itu. Iklan pun jadi lebih tepat sasaran.

Di Facebook, cukup tekan tombol like, aktivitas menjelajah dunia yang tersimpan dalam cookie langsung dikumpulkan. Lebih gila lagi, tim Mark Zuckerberg berhasil meluncurkan graph search yang disebut sebagai harta karun.

Saat diaktifkan, mesin pencarinya mampu menemukan orang berdasar jenis kelamin, sekolah, kota, sampai jomblo. Contoh magic words-nya: singles who live in Jakarta.

Metode pengumpulan itu bisa berupa banyak hal dengan ada timbal balik. Maksudnya, Google mengoleksi data kita karena layanan e-mailYouTube, dan lain-lain diberikan gratis. Termasuk, melalui aplikasi Google Maps yang saya yakin penggunanya lebih banyak dari Pokemon Go.

Rasanya aneh ketika menghujat kemampuan game untuk mengetahui lokasi tapi membiarkan aplikasi peta yang lebih akurat. Malah teknologi itu kini mampu memberikan informasi detail lewat Street View yang sangat memudahkan mencari alamat. Hal yang sama dilakukan Niantic, pembuat game Pokemon Go.

Mereka lebih dulu membuat Google Earth, lantas mengembangkan game Ingress yang mengoleksi data dari unggahan foto dan koordinat para pemain. Data yang mereka kumpulkan itulah yang saat ini berevolusi menjadi Pokemon Go, bukan yang lain.

Pengumpulan data saat ini bukanlah hal yang asing. GoogleFacebook, dan transportasi online adalah sebagian kecil contoh perusahaan yang memanfaatkan data. Apakah kita perlu takut? Untuk saat ini, belum ada bukti apakah mereka memanfaatkan itu untuk aktivitas intelijen.

Ada pernyataan bahwa pengumpulan data itu lantas digunakan Amerika untuk menemukan Osama bin Laden maupun aksi lain. Jika Amerika menggunakan Google Maps untuk itu, saya menggunakan satelit supaya tidak tersesat saat tugas ke luar kota atau negara lain. Apakah lantas saya disebut melakukan aksi intelijen?

Pokemon Go ketika dipasang memang meminta izin untuk menggunakan kamera. Namun, sampai saat ini, belum ada bukti game tersebut memotret sendiri dan meng-upload foto sendiri. Jika itu terjadi, tentu akan ada protes besar dan lon­jakan lalu lintas data yang sangat besar. Gampangnya, kuota internet Anda bakal cepat habis.

Sebagai contoh, memata-matai lewat streaming video. Untuk kualitas standar, dalam satu jam butuh kuota 700 mb. Kalau high definition (HD), angkanya malah sampai 3 gb per jam. Jadi, bagaimana mereka bisa memata-matai atau mengambil data tanpa membuat kita kehilangan data sebesar itu secara sadar?

Hal yang sama berlaku untuk foto. Saya menggunakan ponsel dengan kamera 12 megapixel (mp). Satu file foto memakan tempat sekitar 3,5 mb. Jika ada 10 foto yang terunggah, berarti kuota sebesar 35 mb akan terpotong. Tapi, gerakan mata-mata tentu butuh lebih dari 10 foto dengan kualitas jernih. Dan, itu butuh kuota besar.

Untuk mengecek apakah Pokemon Go dikontrol dari tempat lain untuk mengunggah data, bagi ponsel Android, bisa dilakukan pengecekan dengan masuk ke setting atau pengaturan. Pilih menu aplikasi dan cari Pokemon Go. Akan muncul berapa data usage yang terpakai. Apakah sudah lebih dari puluhan gigabyte?

Meski demikian, saya sepakat. Apa pun itu, kalau dilakukan secara berlebihan, dampaknya akan jadi tidak baik. Efek Pokemon Go membuat orang jadi tidak fokus bekerja dan menyetir.

Sampai-sampai ke tempat ibadah pun hanya dilakukan untuk mencari monster. Perlu ada rambu-rambu, tetapi tidak perlu khawatir secara berlebihan. Jadi, John Connor kita minta untuk berlatih dulu. Hehehe… 

*Wartawan Jawa Pos, penyuka dan pengguna teknologi

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *