Super Diaspora, WNI yang Sukses di Negeri Orang

6

Diimingi Kemudahan, Tetap Pilih Status WNI

Pada 19-20 Agustus lalu, para WNI hebat tersebut berkumpul dan bertemu dalam Kongres Diaspora Indonesia II di Jakarta. Mereka saling berbagi dan bertukar pikiran seputar kesuksesan menaklukkan negeri orang. Siapa saja mereka?

Mahmudi Fukumoto


Di sela-sela kongres, Jawa Pos berusaha mencari beberapa WNI diaspora yang memiliki cerita sukses luar biasa. Ada pengusaha subkontraktor sukses di Jepang asal Tulungagung, ada raja properti di Sydney asal Surabaya, pakar green technology Amerika asal Jakarta, serta arsitek ternama di Belanda

Mahmudi Fukumoto adalah salah seorang WNI diaspora yang menjalani perjuangan hidup dari bawah. Pemuda desa asal Tanen, Rejotangan, Kabupaten Tulungagung, itu berhasil mendirikan perusahaan Keihin Co Ltd yang bergerak di bidang subkontraktor dan agen perjalanan di Negeri Sakura, yang konon susah ”ditaklukkan” orang asing.

Sebagai warga pendatang, Mahmudi mengaku tidak mudah membangun bisnis di Jepang. Apalagi bagi orang yang tidak memiliki ijazah perguruan tinggi seperti dirinya. ”Saya ini cuma lulusan MAN (Madrasah Aliyah Negeri) 3 Tanen. Sebenarnya, mendirikan perusahaan di Jepang itu mudah. Tapi, yang susah itu adalah survive supaya perusahaan kita bisa bertahan. Itu setengah mati. Tapi, alhamdulillah, saya ndak sampai mati,” ujar Mahmudi lantas terbahak saat ditemui koran ini di JCC, Selasa (20/8).

Pria 39 tahun tersebut mengisahkan awal mulanya dirinya menginjakkan kaki di Jepang. Lulus SMA, pria kelahiran 16 Juli tersebut langsung merantau ke Pulau Dewata pada 1998. Di sana, dia mengikuti kursus bahasa Jepang. ”Saya pengin kerja di hotel,” ujar Mahmudi.

Ternyata, melalui kursus bahasa Jepang tersebut, Mahmudi malah bertemu jodoh. Teman guru kursusnya yang asli Jepang bernama Noriko Fukumoto menaruh perhatian kepada dirinya. Gayung bersambut. Mahmudi pun menikah dengan Noriko yang lantas memeluk Islam.

Atas saran sang istri, Mahmudi pun boyongan ke Jepang pada 2001. Berkat Noriko pula, Mahmudi merasakan naik pesawat terbang untuk kali pertama. ”Itu pertama kalinya saya naik pesawat terbang. Rasanya takut banget,” ungkapnya.

Sampai di Kota Kawasaki, Mahmudi tinggal di rumah mertua. Karena tidak ingin sekadar menumpang, dia bekerja. Pekerjaan apa pun dia lakoni. Mulai menjadi petugas cleaning service, kuli kasar di rel kereta api, kuli bangunan, dan sempat bekerja di hotel. Meski pekerjaan yang dijalani cukup berat, bungsu tiga bersaudara itu selalu menyisihkan penghasilannya untuk ditabung.

Ketika bekerja menjadi kuli kasar di perusahaan kereta api, ayah dua putri tersebut berteman baik dengan salah seorang pekerja yang kala itu usianya sudah sepuh, hampir 60 tahun. Rekannya tersebut ternyata adalah mantan bos suatu perusahaan. Karena perusahaannya bangkrut, dia terpaksa menjadi kuli kasar.

Dari pertemanan tersebut, Mahmudi pun memperoleh ide serta keberanian untuk mendirikan perusahaan sendiri. Dia pun mengajak serta rekannya tersebut. Pada 2007, dia mendirikan perusahaan yang diberi nama Keihin Co Ltd. Di situ, dia menjadi owner dan rekannya ditunjuk sebagai direktur utama (Dirut).

”Modalnya dari mana? Dari tabungan saya. Rekan saya jadi Dirut-nya karena jaringannya waktu jadi bos dulu kan luas,” paparnya.

Meski begitu, Mahmudi sadar, statusnya sebagai orang asing di Jepang akan mempersulit perkembangan usaha tersebut. Karena itu, dia mengadopsi nama keluarga istrinya yang merupakan nama sang mertua, Fukumoto. Bukannya menolak, sang mertua malah tersanjung.

”Sebab, bagi orang Jepang, kalau kita suami, pakai nama keluarga istri itu biasanya nggak mau karena malu. Karena itu, mertua saya malah terharu sampai, alhamdulillah, dia juga ikut masuk Islam,”paparnya.

Mahmudi pun tidak memungkiri bahwa ada perbedaan besar setelah memakai nama Fukumoto. Dia lebih mudah memperluas jaringan. Perusahaannya juga terus berkembang. Dia banyak belajar dari rekannya tersebut. Karena usianya semakin tua, sang Dirut itu pun memutuskan untuk pensiun. Otomatis, pucuk pimpinan dipegang Mahmudi.

Dia pun tidak ingin berpuas diri hanya dengan perusahaan subkontraktornya yang kerap menangani pabrik-pabrik minyak seperti Pertamina di Jepang. Tidak lama setelah Keihin Co Ltd sukses, ayah Fukumoto M. Cinta dan Fukumoto M. Ratu itu memperlebar usahanya dengan membuka anak perusahaan berupa agen perjalanan Keihin Tour.

Meski kesuksesan di negeri orang sudah diraih, Mahmudi menyatakan tidak berniat berpindah kewarganegaraan. Dia masih ingin menjadi WNI. ”Kalau mau, ya sudah dari dulu-dulu saya pindah kewarganegaraan. Teman-teman saya yang orang Jepang bilang, kalau kamu ganti kewarganegaraan, makin mudah nanti. Tapi, saya merasa sudah cukup dengan nama Fukumoto. Tidak perlu ganti kewarganegaraan,” tegasnya lantas tersenyum.

Jika Mahmudi berat meninggalkan desanya yang indah di Tulungagung, kondisi sebaliknya dialami Daliana Suryawinata. Dia memutuskan untuk meninggalkan Indonesia karena sumpek dengan Jakarta. Selama 23 tahun hidup di ibu kota, dia tersiksa oleh kemacetan jalanan yang tidak kunjung terurai, penuh polusi, dan sering banjir.

Daliana Suryawinata

Sepuluh tahun lalu, Daliana pergi ke Belanda dan menikah dengan arsitek Jerman. Mereka lantas membuka usaha arsitektur di Rotterdam, Belanda; Munich, Jerman; dan terakhir di Indonesia. Meski sudah sukses, Daliana tidak lupa dengan tanah kelahirannya. Dia punya impian membuat Jakarta menjadi kota yang lebih layak dihuni.

”Di Eropa, tata kota yang baik jadi standar. Beda dengan di sini, ruang bermain anak, ruang hijau, hingga ruang duduk tidak ada. Itu bukan luxury goods, tetapi hak dasar,” tegasnya. Nah, selama bekerja sebagai arsitek, Daliana bersama suami dan rekan kantornya suka membuat konsep urban yang tidak biasa.

Salah satu konsep yang sudah diterapkan adalah Rumah Tambah (Rubah) di Batam. Yang terbaru, konsep kampung vertikal yang diminati Jokowi dan Ahok untuk diterapkan di Jakarta. Konsepnya, membuat hunian warga miskin bisa tertata dengan baik. Bukan lagi berbentuk rumah susun yang sering tidak layak huni. ”Tapi, kampung yang memiliki tempat bermain, tempat tinggal, dan bekerja jadi satu kesatuan,” jelasnya.

Konsep itu akan diterapkan di wilayah Muara Angke dan diharapkan tahun ini mulai dibangun. Dia mengaku sangat senang konsepnya digunakan pemerintah DKI Jakarta.

Meski demikian, keberhasilan tersebut tidak membuat Daliana berganti kewarganegaraan. Malahan, dia berharap suatu saat bisa mengajak keluarganya tinggal di Jakarta. Tentu saja, semua itu akan dilakukan saat Jakarta sudah menjadi kota layak huni. Apalagi, saat ini dia baru punya anak berusia empat tahun.

Daliana merasa senang dengan diadakannya Congress of Indonesian Diaspora. Sebab, dari kongres itu, dia bisa bertemu dengan orang-orang serta pemerintah yang siap menjadikan Indonesia lebih baik. ”Seperti Dahlan Iskan, Jokowi, dan Ahok. Saya hanya ingin kerja sama dengan orang yang mau terbuka dan punya visi terhadap perkotaan,” tuturnya.

Memupuk kesuksesan dari bisnis properti seperti Daliana juga dilakukan Iwan Sunito, bos Crown International Holding Groups. Kerja kerasnya untuk mengubah diri dari bocah yang nakal dan sempat membuatnya tidak naik kelas memberikan bukti. Kini dia menjadi salah satu raja properti di Australia dengan total project mencapai USD 3 miliar.

Iwan Sunito

Pada 1996, Iwan merintis Crown. Banyak cobaan yang menerpa. Saat krisis global 2004-2007, dia berusaha tetap menyelamatkan usahanya. Hingga akhirnya, dia berhasil menemukan buku yang mengajarkannya untuk membuat produk yang tidak biasa.

Kini Iwan mulai menikmati hasilnya. Crown Group berkembang cepat. Tidak lagi menunggu orang menggambar dan tender jadi, pihaknya langsung membangun. Tanpa menunggu marketing lagi karena dia mengklaim sudah tahu apa yang diperlukan pembeli. ”Krisis menjadi hikmah. Bagi saya, lebih baik mengerjakan satu dengan baik daripada banyak hal tapi tidak terbaik,” tegasnya.

Efek lainnya, Iwan mulai yakin untuk ”pulang kampung”. Untuk kali pertama, arek Suroboyo itu bersiap menanamkan modalnya di Indonesia. Dia sudah menyiapkan Rp 100 triliun untuk membangun apartemen di pusat Kota Jakarta dengan lahan sekitar 4 hektare. ”Sebelum akhir tahun proyeknya dimulai,” ujarnya yakin.

Green Technology

Sonita Lontoh

Tidak semua WNI diaspora sukses di bidang usaha. Sonita Lontoh justru eksis di bidang yang terhitung baru, yakni green technology. Perempuan asli Jakarta itu telah tujuh tahun mendalami seluk beluk green technology.

Anak tunggal tersebut menuturkan, dirinya mulai mendalami bidang itu saat bekerja di Pacific Gas and Electric Company, semacam PLN di AS, pada 2006. Pada 2011, dia keluar dan bergabung dengan perusahaan start up Trilliant yang berbasis di Silicon Valley.

Selain itu, Sonita aktif dalam Clean Energy Education & Empowerment (C3E), sebuah program inisiatif Departemen Energi AS dan kampus MIT untuk memajukan kepemimpinan profesional perempuan dalam clean energy. Pengalaman profesionalnya di bidang energi dan teknologi ramah lingkungan membuat Sonia sering diminta menjadi pembicara dalam sejumlah acara seminar tentang seluk-beluk green technology.

Kemampuan Sonita di bidang IT juga membuat dirinya dipercaya menjadi salah satu mentor dalam program TechWoman pimpinan Menlu AS saat itu, Hillary Clinton. Program tersebut mengimplementasikan visi Presiden Barack Obama tentang peningkatan hubungan baik antara Timur Tengah dan pemerintah AS di bidang energi.

Meski telah 20 tahun tinggal di AS, istri Adam Skargard tersebut mengaku belum ingin berpindah kewarganegaraan. Sebab, masih banyak keluarganya yang berada di Indonesia. Namun, dia tidak memungkiri, ada sejumlah ketidaknyamanan yang harus dihadapi karena dirinya masih WNI.

”Contoh waktu itu juga pernah mau dapat penghargaan dari pemerintah Amerika, namun nggak jadi karena itu diperuntukkan bagi citizen Amerika,” ungkap salah seorang chairman Yayasan Diaspora Indonesia itu. (dim/ken/c5/kim)

Bertiga Urus dari Izin hingga Jadi Guru Dadakan

Ada keresahan yang sama di semua keluarga WNI yang tinggal lama di luar negeri (diaspora). Yakni, generasi kedua sudah melupakan bahasa Indonesia. Fenomena tersebut juga terjadi di kota kecil Al Khor, dekat ibu kota Qatar, Doha.

Raden Junaida Madya, Farida Idawati, dan Ainal Saadan

Selama bertahun-tahun masalah minimnya pengetahuan terhadap bahasa ibu tersebut hanya diatasi dengan pengajaran di rumah. Sebagian yang lain malah membiarkan. Namun, bagi tiga ibu rumah tangga yang lama menetap di Qatar, yakni Farida Idawati, Ainal Saadan, dan Raden Junaida Madya, kondisi yang tidak menguntungkan keturunan mereka itu harus diubah.

Ketiga ibu tersebut hijrah ke Qatar karena mengikuti sang suami. Untuk mengisi waktu luang, ketiganya bekerja sebagai asisten guru di Al Khor International School. Di sekolah itu pula, mereka menyekolahkan putra-putrinya.

Selama menjadi asisten guru, mereka bertiga menyaksikan bahwa bahasa Indonesia anak-anak Indonesia di sekolah tersebut makin hilang. Padahal, jumlah anak Indonesia di sekolah itu terbanyak kedua setelah Arab. “Kami yang kerja di sana sadar hal itu tidak bisa dibiarkan,” jelas Farida Idawati, salah seorang asisten guru asal Makassar.

Akhirnya, Farida beserta dua rekannya, Ainal Saadan dan Raden Junaida Madya, pun segera bertindak. Awal 2007 mereka memberanikan diri menemui Kepala Al Khor International School. Mereka mengajukan agar bahasa Indonesia bisa masuk kurikulum British Stream yang diberlakukan di sekolah tersebut. Ada dua alasan kuat yang mereka kemukakan kepada pihak sekolah.

“Alasan pertama, seorang anak kalau belajar bahasa lain tapi tidak melupakan bahasa ibunya, bahasa Indonesia, dia akan lebih cerdas. Alangkah sayangnya, bahasa lain bisa, tapi bahasa ibunya malah hilang,” jelas Farida. Alasan kedua, lanjut Farida, anak-anak Indonesia yang belajar di sekolah tersebut termasuk golongan mayoritas.

Meski belum ada persetujuan, ketiganya masih saja ngotot agar bahasa Indonesia bisa diadakan sebagai salah satu pelajaran di sekolah tersebut. Upaya mereka pun tidak sia-sia. Melihat kesungguhan tiga asisten guru tersebut, pihak sekolah luluh. Namun, pihak sekolah tidak berarti langsung setuju memasukkan bahasa Indonesia dalam kurikulum. “Mereka challenge (menantang) kita. Mereka bilang, oke kalau kamu merasa yakin bahwa bahasa Indonesia itu penting, kita coba,” ujar Farida.

Ketiganya pun langsung bergerak. Namun, mereka terlebih dahulu harus meyakinkan pihak orang tua murid. Lagi-lagi tidak mudah. Beruntung, suatu hari pakar pendidikan Arief Rahman berkunjung ke sekolah tersebut. Mereka pun meminta guru besar Universitas Negeri Jakarta tersebut untuk membantu membujuk orang tua murid lewat sebuah seminar. “Alhamdulillah, setelah ada dorongan dari Pak Arief, orang tua murid akhirnya setuju,” jelas Junaida.

Tapi, persoalan belum usai. Mereka bertiga harus menentukan siapa yang bakal mengajar di kelas bahasa Indonesia tersebut. Karena kepepet, ketiganya pun mengambil alih sementara peran pengajar itu. “Masuknya seperti muatan lokal. Karena waktu sudah mendesak, yang ngajar kami bertiga dulu,” ujar Farida.

Kelas bahasa Indonesia pertama tersebut ternyata memberikan hasil yang cukup memuaskan. Banyak guru yang mengakui bahwa anak-anak Indonesia yang mengikuti kelas bahasa Indonesia mampu berkomunikasi lebih lancar daripada anak-anak yang lain. “Guru-guru mengakui kalau anak-anak Indonesia, komunikasinya jadi lebih baik,” kata Farida.

Dari situ, lama-kelamaan kelas bahasa Indonesia terus berkembang. Bahasa Indonesia pun diajarkan untuk kelas III hingga VI. Kemudian, berkembang lagi hingga kelas X. Bahkan, tidak hanya anak Indonesia yang tertarik mengikuti pelajaran bahasa Indonesia. Anak-anak dari negara lain seperti Filipina, Inggris, dan Malaysia mulai mengikuti kelas bahasa Indonesia. Akhirnya, bahasa Indonesia pun masuk kurikulum British Stream yang terkenal ketat itu. (ken/c10/kim)

Mulai Dwi Kewarganegaraan sampai Kampanye Kuliner

KONGRES diaspora yang berakhir pada Selasa (20/8) menyisakan banyak pekerjaan. Ada 12 bidang yang akan dikerjakan untuk menjadikan para diaspora inspirasi dalam memajukan Indonesia. Mulai bidang energi, ketenagakerjaan, imigrasi dan kewarganegaraan, pendidikan, inovasi iptek, bisnis dan investasi, hingga kuliner.

Perwakilan Diaspora Belanda Daliana Suryawinata mengatakan, kongres yang diikuti 56 chapter Indonesia Diaspora Network (IDN) dari 26 negara itu mempunyai satu tekad. Yakni, serempak beraksi memberi sumbangsih konkret untuk negara. ”Berkontribusi kepada tanah yang kami cintai ini demi menuju masa keemasan Indonesia,” ujarnya saat membacakan hasil kongres di akhir acara.

Ada tiga kesepakatan dari kongres diaspora II. Pertama, membentuk Indonesia Diaspora Global Network yang mewakili seluruh national chapter. Kedua, mendirikan kantor kepentingan diaspora yang berbadan hukum Indonesia di Jakarta. Ketiga, melaksanakan kongres Diaspora Indonesia setiap dua tahun serta mendorong chapters di kawasan untuk melakukan pertemuan.

Daliana menjelaskan, pertemuan di tiap kawasan itulah yang merumuskan aspirasi berisi 12 poin. Misalnya, di bidang imigrasi dan kewarganegaraan yang mendorong pembentukan focus group. Pesertanya pemerintah, parlemen, diaspora, dan akademisi. ”Tujuannya membahas beberapa aspek dari dwi kewarganegaraan,” imbuhnya.

Setelah kongres diaspora pertama di Los Angeles Juli 2012, wacana dwi kewarganegaraan kembali menghangat. Warga diaspora berharap bisa direstui memiliki dwi kewarganegaraan agar lebih leluasa di luar negeri. Sebab, mereka tidak lagi dianggap sebelah mata dan kedudukannya setara dengan warga di negara itu.

Di bidang livable cities, mendorong kerja sama para diaspora dengan arsitek, urban planners, ahli tata air, pakar teknik lingkungan, dan landscape architecture. Muaranya, tercipta konsep kota layak huni yang dapat diterapkan di Indonesia. ”Kerja sama dengan perbankan nasional dan internasional untuk menurunkan biaya remitansi. Terutama di negara yang padat diaspora Indonesia,” jelas Daliana untuk bidang bisnis dan investasi. Mereka juga akan mendorong pemerintah untuk mempertimbangkan adanya obligasi bagi diaspora dengan harga yang menarik.

Ada gagasan menarik soal kuliner. Para diaspora akan membantu memperkenalkan dan mengembangkan kuliner khas di negara kediaman masing-masing. Terutama di 30 ikon kuliner Indonesia melalui berbagai cara. (dim/c6/kim)

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather

6 thoughts on “Super Diaspora, WNI yang Sukses di Negeri Orang

  1. Inuy Olan

    Pada sukes semuanya dengan jalan yang berbeda beda. Lalu saya bagaimanA? Mau keluar negeri mengadu nasib jadi tukang cuci piring saja..ga tau jalan.

  2. vina

    Pingin deh sukses di negri org tapi gimana caranya buat pergi kesana pake pesawat dan itu perlu uang -_- kalo pun kesan just a dream , i wish i can like them

  3. Darno mualim

    Minta doanya semuanya ya supaya saya bisa kerja di arab saudi kerja di hotel,atau petugas haji dari indonesia boleh ,sekali lagi minta doanya semuanya amiiiin

  4. ferdiyansyah

    Buat saya ini adalah orang-orang indonesia yang brani menantang jurang … Saya baru 8 bulan di alkhor tepatnya di QATAR SHELL PEARL GTL saya juga ingin menjadi seperti kalian SUKSES di NEGARA ORANG … Amiiiinnn

  5. Muhammad toha

    Saya pengen sekali kerja ke amerika, pgn sekali kerj dgn org indonesia yg sukses di sana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *